Wabah Corona & Harga Batu Bara Anjlok, Apa Hubungannya?

Meluasnya penyebaran virus corona ikut menekan pasar keuangan domestik, terutama bursa saham. Emiten pertambangan batu bara ikut tertekan karena suplai ekspor yang terganggu beberapa pabrik China harus tutup karena wabah virus corona.

Pada perdagangan hari ini, Selasa (11/2/2020), Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,01% ke level 5.940,74 poin. Secara sektoral, pertambangan terkoreksi 0,03% bersama sektor lainnya yang juga melemah seperti aneka industri 1,21%.

Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia, Andrew Chia mengakui ada dampak negatif dari meluasnya wabah korona.

“Dampaknya pasti ada, kita masih mereview juga. Kita masih mencocokkan down side risk dan impactnya,” kata Andres Chia di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Namun, dia masih enggan membeberkan lebih rinci mengenai kalkulasi dampak dari virus korona terhadap pertumbuhan ekonomi domestik di kuartal pertama 2020.

Baca Juga : Tahun Depan Produksi Freeport Diramal Kembali Normal

“Kita tidak tahu angka pastinya [PDB bisa terkoreksi], sedang menghitung. Situasi masih berkembang,” kata dia menjelaskan.

Corona jadi “Kambing Hitam”

Pada saat sama, Head of investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja menjelaskan, wabah virus korona menjadi sentimen negatif bagi emiten di sektor pertambangan batu bara.

Wabah-Corona-dan-Harga-Batu-Bara-Anjlok-Apa-Hubungannya?
Wabah Corona & Harga Batu Bara Anjlok, Apa Hubungannya?

Sebabnya, Negeri Tirai Bambu masih menjadi negara tujuan ekspor batu bara terbesar. Namun, karena adanya wabah virus, beberapa pabrik di China harus tutup karena banyak pekerja yang diliburkan.

“China masih jadi negara tujuan ekspor andalan untuk batu bara. Tapi karena pabrik tutup, kebutuhan batu bara jadi turun, jadi sentimen negatif ke emiten tambang batu bara, akhirnya IHSG turun,” kata dia.

Sebagai informasi, mengacu data Bursa Efek Indonesia, saham-saham emiten tambang batu bara secara year to date rata-rata masih melemah. Saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) terkoreksi 15,43%. Emiten batu bara pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), juga melemah 13,16% sejak awal tahun. Sedangkan, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) terkoreksi 11,98%.

Harga batu bara kembali  melemah. Data Refinitiv menunjukkan harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle kemarin (10/2/2020) ditutup di level US$ 68,6/ton turun 2% dibanding posisi sebelumnya. Turunnya harga terjadi setelah harga batu bara mencetak rekor tertinggi pada 6 Februari. Harga tertinggi tersebut sejak 17 Januari 2020.

Sejak September tahun lalu, harga batu bara cenderung bergerak dengan pola sideways. Setelah menyentuh level tertinggnya, harga batu bara kembali melorot karena ada indikasi para trader yang ambil untung dari apresiasi harga. 

Setelah itu, harga batu bara kembali bergerak sideways. Sejak September 2019 hingga penutupan perdagangan kemarin, harga batu bara bergerak di rentang US$ 66 – US$ 77 per ton.