Virus Corona Kubur Harga Minyak Dunia

Virus Corona Kubur Harga Minyak Dunia

Virus-Corona-Kubur-Harga-Minyak-Dunia
Virus Corona Kubur Harga Minyak Dunia

Data Bloomberg harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April menguat 4,04 persen atau 1,16 poin ke level US$ 29,86 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 12.50 WIB. Pada hari Senin kemarin, WTI ditutup anjlok 3,03 poin ke US$ 28,7 per barel.

Harga minyak mentah dunia terus merosot pada perdagangan Selasa (17/3) Karena kekhawatiran pasar bahwa penyebaran virus corona dapat mengurangi permintaan global.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$1,32 atau 4,39 persen ke posisi US$28,73 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melemah US$1,75 atau 6,1 persen menjadi US$26,95 per barel.

Pelaku pasar cemas akan risiko penurunan signifikan permintaan minyak di tengah kian merebaknya wabah virus corona.

Pandemi itu menyebabkan penutupan beberapa negara di Eropa dan Asia. Di sisi lain, Arab Saudi dan Rusia sebagai produsen minyak utama mengirimkan tanda perang harga di pasar minyak.

Baca Juga: Ekspor Tambang Batu Bara Belum Terdampak Corona

Para pemimpin negara G-7 mengatakan mereka akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan tanggapan yang terkoordinasi secara global terhadap pandemi Covid-19 dan dampak ekonominya. 

Presiden AS Donald Trump telah mengimbau warga Amerika harus menghindari berkumpul dalam kelompok lebih dari 10 orang. Sedangkan Kanada menutup perbatasannya dan melarang warga asing masuk.

Prancis Perketat Lockdown Nasional

Adapun Prancis tengah mempertimbangkan memperketat lockdown nasional, sementara Jerman menutup perbatasannya dengan lima negara tetangga.

Anjloknya harga minyak pada Senin kemarin karena langkah darurat besar-besaran oleh The Federal Reserve untuk melindungi ekonomi gagal memadamkan ketakutan pasar, dengan indeks S&P 500 jatuh 12 persen.

Proyeksi permintaan minyak minyak global pun dipangkas ketika langkah-langkah pemerintah menahan penyebaran Covid-19 direspons positif pasar.

Untuk diketahui, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia atau OPEC+, gagal mencapai kesepakatan pemangkasan produksi.

“Mengingat bahwa pada saat bersamaan permintaan menurun akibat dari pembatasan untuk memerangi virus corona,” kata analis energi di Commerzbank Research Carsten Fritsch.

Ia mengatakan perilaku dua produsen minyak utama dunia itu dapat digambarkan sebagai tindakan menghancurkan diri sendiri.