Usai 2 Pekan Ambles, Harga Batu Bara Naik Kembali Membara

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle akhirnya naik setelah terkoreksi sejak 21 Oktober 2019. Harga batu bara ditutup naik 0,75% pada perdagangan Rabu 30 Oktober 2019. Harga batu bara masih bergerak fluktuatif di kisaran US$ 66-72/ton melanjutkan trennya sejak awal September. Rabu kemarin harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup di level US$ 67,5/ton. Harga batu bara masih berpotensi untuk melanjutkan tren tersebut sembari menunggu apakah China sebagai negara dengan konsumsi batu bara terbesar di dunia akan meningkatkan impornya atau tidak.

Namun outlook batu bara di tahun-tahun mendatang bisa terbilang masih cerah di samping tren kebijakan bauran energi yang ramah lingkungan. Menurut Direktur International Energy Agency (IEA), Keisuke Sadamori, permintaan batu bara masih akan tumbuh dan ditopang oleh negara-negara kawasan Asia mengingat keterjangkauan batu bara.

Baca juga: Helm Safety Proyek, Tak Disangka! Inilah Makna ke 7 Warnanya

Menurutnya, walau China mulai beralih ke berbagai sumber energi lain bukan berarti China akan meninggalkan batu bara seketika. Hal itu tentu susah untuk dilakukan dalam jangka waktu yang pendek mengingat penggunaan batu bara sebagai salah satu sumber energi merupakan bagian untuk menjaga fleksibilitas sistem.

“Pertumbuhan ekonomi yang pesat serta ukuran populasi yang terus tumbuh membuat permintaan energi meningkat. Hal ini tentu membuat upaya untuk mereduksi emisi karbon menjadi semakin susah” tambah Sadamori. EIA memprediksikan hingga tahun 2040, permintaan batu bara akan mencapai lebih dari 200 juta ton dengan menggunakan skenario kebijakan seperti sekarang. EIA juga memperkirakan kontribusi penggunaan batu bara dalam bauran energi di negara-negara kawasan Asia Tenggara juga akan naik. Untuk tahun-tahun mendatang peningkatan permintaan batu bara tidak hanya datang dari negara ASEAN saja, tetapi juga berasal dari India, Pakistan atau Bangladesh.