Tren Penurunan Harga Batubara 2019

Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan harga batubara dunia seperti isu perlambatan ekonomi global, perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, kebijakan pengurangan emisi karbon negara Eropa, serta pembatasan impor batu bara Australia oleh Tiongkok masih menjadi isu utama pergerakan harga batu bara setahun terakhir.

Naik turun harga komoditas memang wajar, namun penurunan batu bara termasuk yang terbesar diantara komoditas lain, seperti timah, tembaga.

Logam hitam alias batu bara mengalami tren penurunan harga yang fluktuatif.

Bahkan jika dibandingkan harga tertingginya di 2018, saat ini turun hampir 50% di harga US $65 per metric ton (MT). Jika membandingkan harganya secara tahunan dengan harga saat ini, batu hitam turun sekitar 32%. Hal ini mengonfirmasi bahwa tren komoditas batu bara sedang downtrend.

Baca juga artikel terkait Penurunan Harga Batu Bara: Potensi Thorium Indonesia

Tidak hanya faktor tersebut. bahkan belakangan terjadi inversi pada surat utang pemerintah AS untuk tenor 2 tahun yang mengungguli imbal hasil (yield) tenor 10 tahun.

Inversi di pasar obligasi AS menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan dunia lantaran merupakan sinyal dari terjadinya resesi di AS pada masa depan. LNG, Substitut yang Ampuh Gas alam (bahan bakar fosil berbentuk gas) diproses lebih lanjut dengan suhu sangat rendah sehingga berubah wujud menjadi cair.

Dibandingkan sumber energi lainnya, LNG (Liquefied natural gas) lebih ramah lingkungan. Hal inilah yang mengungguli sifat batu bara.

Sejak awal tahun 2019 LNG mengalami penurunan harga dari US $9 per Juta British Thermal Unit (mmbtu) menjadi US $4,5 mmbtu.

Penurunan hampir 50%! Akibatnya, banyak negara yang sangat memperhatikan lingkungan lebih memilih beralih ke LNG dan meninggalkan batu bara, seperti Jepang dan Korea.