Tren Penurunan Harga Batu Bara

Harga batu bara kontrak acuan masih terus melanjutkan tren penurunan. Tak ada katalis positif yang mampu mengangkat harga batu bara setelah cetak rekor tertingginya pertengahan Januari lalu.

Kemarin, Rabu (22/1/2020) harga batu bara kontrak acuan ICE Newcastle ditutup di level US$ 68,3/ton. Harga batu bara mengalami koreksi sebesar 3,74% dibanding posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Sejak 13 Januari hingga kemarin, harga batu bara telah terkoreksi 11,5%.

Sampai saat ini kinerja perdagangan batu bara masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan secara signifikan. Hal ini terlihat dari dua indikator. Pertama adalah impor batu bara di berbagai negara kawasan Asia dan pengiriman komoditas menggunakan kapal kargo.

Berdasarkan data Refinitiv, impor batu bara China dari awal tahun 2020 mencapai 14,5 juta ton. Total impor tersebut masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 17,63 juta ton.

Beralih ke Negeri Sakura dan Negeri Ginseng, impor batu bara Jepang dan Korea Selatan sejak awal bulan tercatat masing-masing 9,3 juta ton dan 4,6 juta ton.

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu maka jumlah tersebut lebih rendah, mengingat impor batu bara Jepang mencapai 10,3 juta ton dan Korea Selatan mencapai 7,8 juta ton. Turunnya impor batu bara negeri ginseng sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi emisi karbon.

Impor Batu Bara India Menurun

Impor batu bara India sejak awal tahun hingga kemarin mencapai 9 juta ton, menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 10,2 juta ton.

Baca Juga : Sukses Main Saham ala Warren Buffet Indonesia

Indikator lain terkait pengiriman komoditas salah satunya batu bara juga mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari Indeks Baltic, Indeks Capesize dan Indeks Panamax.

Indeks Baltic yang mengukur aktivitas pengiriman komoditas melalui jalur laut dengan kapal kargo masih menunjukkan penurunan. Indeks Baltic mengukur tingkat pengiriman tiga jenis kapal kargo yaitu Panamax, Supramax dan Capesize.

Kapal jenis Capesize merupakan kargo yang paling besar dengan kapasitas muatan 170.000-180.000 ton. Kapal ini digunakan untuk mengangkut batu bara dan bijih besi.

Teranyar Indeks Baltic Capesize juga masih terkoreksi 170 poin atau 34,3% menjadi 325 kemarin. Rata-rata earnings harian kapal Capesize pun mengalami penurunan US$ 1.151 menjadi US$ 5.911.

Sementara untuk Indeks Baltic Panamax mengalami kenaikan 64 poin atau 7,8% menjadi 760 pada periode yang sama. Kapal kargo jenis Panamax memiliki kapasitas muatan 60.000-70.000 ton banyak digunakan untuk mengangkut batu bara dan bijih-bijian.

Menjelang tahun baru Imlek yang semakin dekat, biasanya total konsumsi batu bara lebih rendah dibanding bulan lainnya. Hal ini juga yang jadi faktor penyebab anjloknya harga batu bara.