Tren Penggunaan Energi Surya Indonesia Lambat

Dunia sedang berpacu mengembangkan inovasi energi menggantikan bahan bakar fosil. Di Indonesia sendiri tren penggunaan energi surya (alternatif) belum banyak dilirik oleh masyarakat. Pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan energi alternatif di Indonesia.

tren-penggunaan-energi-surya-indonesia-masih-lambat
Tren Penggunaan Energi Surya Indonesia Masih Lambat.

Tren penggunaan energi surya meski sudah menunjukan geliat namun cenderung masih lambat. Perlu ikhtiar lebih serius untuk bisa menggenjot pemakaian energi terbarukan di masyarakat. “Seperti PLTS rooftop, itu yang baru menyambutnya kalangan industri, karena memang (investasinya) yang dibutuhkan tak sedikit,” kata Senior Manager General Affairs PLN Jabar, Andhoko Soeyono di Bandung, Rabu (5/2).

Untuk menginstalasi perangkat PLTS, katanya, dibutuhkan sedikitnya Rp 40-50 juta. Karena itu, dari kalangan industri yang mengambil opsi tersebut. Itu pun karena ditunjang kebijakan green energy. Salah satunya sebuah perusahaan di Bekasi.

“Memang kapasitasnya relatif besar, karena pembangkit yang dibangun itu bisa memenuhi konsumsi seribu rumah tapi kan sebenarnya kan kecil kalau dibandingkan kebutuhan perusahaannya, makanya gaungnya belum menggema,” jelasnya.

Baca Juga : Pemanfaatan energi surya di Indonesia baru 0,05%

Kondisi tersebut serupa dengan pemassalan kendaraan listrik seperti sepeda motor. Mereka tak menampik bahwa populasinya terutama di Kota Bandung masih harus digenjot. Meski demikian, perusahaan plat merah itu sudah memberikan layanannya.

Salah satunya adalah tukar tambah baterai. Hal ini untuk memberikan kemudahan kepada pemilik sepeda motor listrik dibanding mengisi daya baterai yang bisa membutuhkan waktu hingga tiga jam.

“Ini untuk menunjang mobilitas pengguna sepeda motor listrik. Diharapkan kemudahan ini bisa menarik minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik. Kita sendiri masih fokus penggalakan penggunaan kompor listrik di kalangan rumah tangga,” jelasnya.

Selain layanan swap, Andhoko Soeyono menyebut langkah lainnya untuk memasyarakatkan kendaraan listrik adalah menggandeng komunitas. Selebihnya, program tersebut membutuhkan kebijakan besar sehingga bisa lebih menggema.