Transisi Energi RI Diramal Baru Terealisasi Setelah 2030

Transisi Energi RI Diramal Baru Terealisasi Setelah 2030

Transisi Energi RI Diramal Baru Terealisasi Setelah 2030
Transisi Energi RI Diramal Baru Terealisasi Setelah 2030

Realisasi penggunaan Energi Baru Terbarukan Indonesia masih perlu waktu. 

Transisi energi fosil kepada energi baru Indonesia membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan sejumlah negara lainnya di dunia.

Menteri Pertambangan dan Energi ke-9 RI periode 1978-1988 Subroto mengatakan situasi di Indonesia berbeda dibandingkan kondisi di negara lainnya, sehingga untuk menerapkan transisi energi tidak perlu mengikuti gambaran tren global.

Apalagi, lanjutnya, bauran energi baru dan terbarukan Indonesia saat ini masih sekitar 9,15% dan penggunaan migas dan batu bara masih mendominasi.

Dengan kondisi ini, transisi energi di Indonesia kemungkinan baru terjadi setelah tahun 2030 atau 2040-an.

Hal ini berbeda dari tren global yang mulai menganggap peranan minyak dan fosil selesai pada 2030.

“Terkait transisi energi di Indonesia, kita harus tahu situasinya, tidak perlu ikuti gambaran tren global. Secara global, peranan minyak dianggap selesai pada 2030 dan harus masuk ke renewable, tapi Indonesia mungkin bisa gunakan migas dan batu bara lebih lama dari 2030. Renewable baru berperan di Indonesia setelah 2030-2040, terutama peranan energi angin, surya dan geothermal,” jelasnya

Lebih lanjut dia mengatakan potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia sangat banyak, mulai dari angin, surya, dan juga panas bumi.

Semua potensi ini menurutnya harus direalisasikan. Namun, dia mengakui, untuk merealisasikan proyek EBT ini tidaklah mudah, perlu dilakukan identifikasi jenis EBT apa saja yang tersedia dan masalah apa yang dihadapi setiap jenis EBT ini.

Baca Juga: Pemerintah Kembangkan Cold Storage Energi Surya

“Jadi kita perlu memikirkan pentahapan dalam transisi energi ini. Misal tahap pertama kita masih bisa gunakan sumber daya minyak dan gas. Kalau secara global peranan fosil di dalam penyediaan energi secara global itu tersedia hanya sampai 2030, kalau Indonesia barangkali waktunya lebih lama lagi,” paparnya.