Transisi Energi RI Baru Bisa Terjadi Setelah 2030

Transisi Energi RI Baru Bisa Terjadi Setelah 2030

Transisi Energi RI Baru Bisa Terjadi Setelah 2030
Transisi Energi RI Baru Bisa Terjadi Setelah 2030

Indonesia disebut membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan sejumlah negara lainnya di dunia untuk menerapkan transisi energi atau beralih kepada energi baru dan terbarukan dari energi fosil yang masih mendominasi saat ini.

Situasi di Indonesia berbeda dibandingkan kondisi di negara lainnya, sehingga untuk menerapkan transisi energi tidak perlu mengikuti gambaran tren global.

Bauran energi baru dan terbarukan Indonesia saat ini masih sekitar 9,15% dan penggunaan migas dan batu bara masih mendominasi.

Dengan kondisi ini, transisi energi di Indonesia kemungkinan baru terjadi setelah tahun 2030 atau 2040-an.

Hal ini berbeda dari tren global yang mulai menganggap peranan minyak dan fosil selesai pada 2030.

Secara global, peranan minyak dianggap selesai pada 2030 dan harus masuk ke renewable, tapi Indonesia mungkin bisa gunakan migas dan batu bara lebih lama dari 2030.

Renewable baru berperan di Indonesia setelah 2030-2040, terutama peranan energi angin, surya dan geothermal.

Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia sangat banyak, mulai dari angin, surya, dan juga panas bumi. Semua potensi ini menurutnya harus direalisasikan.

Baca Juga: Mitsui & Co akan Jual Semua Saham di PLTU Batu Bara

Namun, untuk merealisasikan proyek EBT ini tidaklah mudah, perlu dilakukan identifikasi jenis EBT apa saja yang tersedia dan masalah apa yang dihadapi setiap jenis EBT ini.

Indonesia perlu memikirkan pentahapan dalam transisi energi ini. Misal tahap pertama kita masih bisa gunakan sumber daya minyak dan gas.