Timah Lekas Berjaya di 75 Tahun Indonesia

Timah Lekas Berjaya di 75 Tahun Indonesia

Timah Lekas Berjaya di 75 Tahun Indonesia
Timah Lekas Berjaya di 75 Tahun Indonesia

Timah Indonesia perjah berjaya dan menjadi primadona perdagangan timah internasional.

Tapi kini akibat pandemi Covid-19, industri timah RI harus menelan pil pahit akibat mengalami kerugian.

Pada semester I/2020, PT Timah Tbk. mencatat rugi Rp390 miliar.

Jika perusahan tak segera membalikkan kerugian sehingga sepanjang 2020 tetap merugi.

Maka dalam 2 tahun terakhir rapor PT. Timah Tbk. (TINS) merah.

Pada 2019, perseroan tercatat rugi Rp. 611,3 miliar, dari sebelumnya laba Rp. 132,3 miliar.

Pada 1984, timah di pasaran dunia tercatat US$12.500 per ton. Sedangkan biaya produksi di Indonesia sekitar US$10.000 per ton. Konsumsi lebih besar dari suplai.

Hanya karena stoknya yang besar, maka stoknya yang dipakai. Tetapi sekarang stoknya makin lama makin menipis sehingga harga dengan sendirinya semakin membaik.

Namun, harga barang tambang yang berpusat di Kepulauan Bangka Belitung itu pada 1985 mulai merosot menjadi US$11.500 per ton.

Baca Juga: Uniknya Kerajinan Batu Bara Khas Sawahlunto

Walaupun hal tersebut bisa diimbangi dengan penurunan ongkos produksi menjadi US$9.700 per ton.

Pada 1986, harga rata-rata anjlok menjadi 6.300 dolar AS/ ton.

Justru pada saat itu PT. Tambang Timah berhasil meningkatkan produksi menjadi 25.000 ton dibandingkan dengan 22.000 ton pada 1985.

Sedangkan pada tahun silam, BUMN ini menghasilkan 28.000 ton, dan tahun ini direncanakan 30.000 ton.