Terdampak Corona, Tambang Batu Bara RI Bakal Revisi Produksi?

Tambang Batu Bara RI Revisi Produksi?

Tambang-Batu-Bara-RI-Revisi-Produksi?
Tambang Batu Bara RI Revisi Produksi?

Meluasnya corona berdampak pada semua bidang, termasuk pertambangan batu bara.

Ketua Umum Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan dampak dari Covid-19 ini secara umum menekan harga, juga volume ekspor belum bisa diproyeksi bakal ada kenaikan tajam.

Lalu bagaimana dampaknya pada Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB)? Dirinya menyebut revisi RKAB Bisa saja dilakukan pada Kuartal I.

Yang sebelumnya dilakukan pada pertengahan tahun. Diperkirakan perubahan kenaikan RKAB tidak akan jauh berbeda, melihat kondisi yang belum pulih sepenuhnya.

“China baru dapat diharapkan normal pada April atau Juni tahun ini, sebagian pelabuhan dicharging di India juga terganggu akibat situasi corona. Selain harga yang masih tertekan,”.

Baca Juga: Harga Emas Kembali Terkoreksi

Lebih lanjut Singgih menyebut RKAB berpotensi akan terkoreksi dalam kondisi seperti sekarang ini.

Dirinya menyarankan agar pemerintah membuat keringanann dalam bentuk apapun pada pengusaha tambang, dengan adanya tekanan atas pasar yang ada.

“Jadi saya melihat potensi koreksi atas RKAB khususnya kenaikan belum akan terjadi, kecuali RKAB kuartal II yang mungkin terjadi kenaikan,” imbuhnya.

Masih Berupaya Capai Target?

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. Hendra Sinadia mengatakan hingga saat ini sebagian besar perusahaan masih berupaya memenuhi target sesuai dengan RKAB yang sudah disepakati.

“Sejauh ini kami belum dapat laporan jika sudah ada perusahaan yang mengajukan revisi di April. Tapi tentu tidak tertutup kemungkinan mengingat eskalasi penyebaran virus yang semakin meluas,” ungkapnya. 

Soal revisi RKAB menurutnya perlu disesuaikan dengan strategi rencana perusahaan ke depan. “Yang juga dipengaruhi perubahan situasi pasar harga komoditas dan juga regulasi atau kebijakan,” tuturnya.

Direktur Utama PT. Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin menyebut hingga kini belum ada rencana untuk melakukan revisi. “Belum ada, karena sebagian penjualan kita udah ada kontrak yang fixed baik domestik maupun ekspor,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira. Dimana belum ada rencana perubahan hingga kini. “Sampai sekarang masih belum ada perubahan,” ungkapnya.