Teknologi Peuyeum Pengubah Batu Bara Nabati

Teknologi Peuyeum Pengubah Batu Bara Nabati

Teknologi Peuyeum Pengubah Batu Bara Nabati
Teknologi Peuyeum Pengubah Batu Bara Nabati

Peuyeum kita kenal sebagai panganan khas asal Jawa Barat. Tapi di tangan kreatif dan penuh inovasi peuyeum diadopsi sebagai metode pengolahan sampah menjadi pelet batu bara.

Teknologi peuyeumisasi digunakan sebagai jalan alternatif atas banyaknya sampah yang tidak terurus.

Apakah itu peuyeumisasi? Penemu metode tersebut sekaligus Komisaris Utama comestoarra.com, Supriadi Legino.

Ia menerangkan metode peuyeumisasi adalah penyebutan lain untuk biodrying, yakni metode pengeringan yang terinspirasi dari alam.

Seluruh sampah dimasukkan ke dalam boks bambu berukuran 2×1,25×1,25 m3 dengan bagian atas terbuka.

Boks tersebut mampu menampung sampah berukuran 500 kilogram hingga 1 ton.

Selanjutnya, sampah dibiarkan mengering memanfaatkan sinar matahari dibantu dengan bioaktivator untuk mengurai sampah dalam waktu 3–7 hari, tergantung material sampah.

Setelah kering, bau tak sedap dari sampah akan hilang. Selanjutnya, petugas bisa memilah antara sampah organik, biomassa, plastik (PVC dan Non-PVC), serta residu.

Semua ini memerlukan kerja sama alias gotong royong dari warga.

“Konsep gotong royong sangat menunjang keberhasilan pengolahan sampah di sumber. Dari kajian sosiologi dan psikologi, masyarakat Indonesia membutuhkan teknologi yang sederhana namun sarat akan nilai-nilai budaya,” tutur Supriadi dalam rilis yang diterima Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Petrosea Dapat Rezeki Rp 525 M dari Freeport

Bambu, sambung dia, dipilih karena identik dengan masyarakat Indonesia. Ukuran boks peuyeum juga disebutnya agronomis.

Hasil peuyeumisasi berupa bahan baku padat atau pelet yang merupakan batu bara nabati.