Teknologi Pemetaan Air Bawah Tanah di Bekas Tambang

Must read

Mereka pun telah melakukan uji coba proyek tersebut di sebuah area bekas tambang batubara di Nottinghamshire, yang ditinggalkan pada tahun 2015 lalu, ketika tambang bawah tanah terakhir, Thoresby Colliery ditutup.

Uniknya, teknologi ISBAS dan InSAR mampu menghitung pengukuran deformasi lahan baik di daerah perkotaan maupun daerah terpencil sekalipun.

Hal ini tentunya sangat bermanfaat saat memetakan bekas area tambang yang seringkali berada di wilayah yang terpelosok dan akses yang tidak memadai.

Kepadatan pengukuran semacam itu berarti bisa sangat memungkinkan untuk mengembangkan metode yang hemat biaya dan sederhana untuk memodelkan rebound air dalam tanah dari perubahan pergerakan permukaan.

Uji coba itu juga menemukan keterkaitan yang pasti antara pengukuran gerakan tanah dan kenaikan permukaan air tambang.

Seringkali penurunan atau pengangkatan tanah terjadi sebagai akibat dari perubahan air di dalam tanah, di mana lapisannya bertindak selayaknya sebuah spons, mengembang saat terisi air dan menyusut ketika dikeringkan.

Dengan cakupan spasial yang sangat lengkap dari data InSAR, para peneliti bisa mengisi celah pengukuran antara lubang bor untuk memetakan perubahan permukaan air tambang di seluruh area tambang batubara.

Model ini memperhitungkan geologi dan kedalaman air tanah untuk menentukan tingkat rebound yang sebenarnya, dan membantu mengidentifikasi dimana masalah yang terkait dengan rebound kemungkinan akan terjadi.

Temuan InSAR ini bisa dijadikan sebagai rujukan utama informasi tambahan tentang perubahan air tanah yang menambah pengukuran lubang bor.

Artinya, pemantauan dapat dilakukan dari jarak jauh, sehingga tidak memerlukan banyak tenaga kerja.

1 COMMENT

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article