Tata Kelola Nikel Kian Meningkat

Tata Kelola Nikel Meningkat Akibat Harga Patokan Mineral

Tata Kelola Nikel Kian Meningkat
Tata Kelola Nikel Kian Meningkat

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang telah menerbitkan aturan harga patokan mineral (HPM).

Langkah ini merupakan salah satu langkah untuk mendukung Pemerintah membenahi tata kelola nikel nasional. Sekaligus untuk menjaga daya saing industri hilirisasi di Indonesia.

HPM logam merupakan harga batas bawah dalam penghitungan kewajiban pembayaran iuran produksi bagi pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam dan IUPK Operasi Produksi Mineral Logam.

HPM juga merupakan acuan harga penjualan bagi pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam dan IUPK Operasi Produksi Mineral Logam untuk penjualan bijih nikel yang dihitung berdasarkan formula HPM dan mengacu kepada HMA yang diterbitkan oleh Menteri setiap bulannya.

Aturan HPM tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 11 Tahun 2020 yang merupakan Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM No. 07 Tahun 2017 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Logam Batubara.

Permen ESDM ini mengatur kewajiban pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam dan IUPK Operasi Produksi Mineral Logam yang memproduksi bijih nikel.

Pengusaha harus merujuk pada HPM logam dalam melakukan penjualan bijih nikel yang diproduksi.

Kewajiban untuk mengacu pada HPM Logam juga berlaku untuk penjualan bijih nikel yang diproduksi kepada afiliasinya.

Penerbitan aturan HPM tersebut dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan penambang nikel maupun pelaku usaha smelter. 

Perhitungan HPM telah dikalkulasikan TMM dalam studi kelayakan untuk STAL Technology.

Baca Juga: Pentingnya Dana Cadangan Selama Eksplorasi

STAL Technology merupakan teknologi pengolahan dan pemurnian logam berbasis Hidrometalurgi milik TMM. Dengan biaya investasi maupun operasional yang bersaing. 

Teknologi ini merupakan pemutakhiran dari teknologi RLEP (Roasting Leaching Electrowinning Process).

Yang diklaim TMM lebih efisien dalam penggunaan bahan kimia untuk mengolah bijih nikel laterit jenis saprolit hingga jenis limonit yang berkadar 1.0 persen.