Target Lifting Minyak Nasional Sulit Dicapai

Target Lifting Minyak Nasional Sulit Dicapai

Target Lifting Minyak Nasional Sulit Dicapai
Target Lifting Minyak Nasional Sulit Dicapai

Industri minyak tanah air lesu, target produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi Indonesia pada tahun ini diproyeksikan kembali tidak tercapai.

Tercatat, berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) realisasi lifting minyak per Juni 2020 hanya mampu berproduksi sebesar 713.300 barel per hari. 

Hanya 94,5 persen dari target APBN dan 101,1 persen dari target program kerja dan anggaran.

Pada sisi lain, untuk realisasi salur gas pada semester I/2020 tercatat 5.605 MMscfd atau 84 persen dari target APBN dan 97,6 persen dari target program kerja dan anggaran (work program & budget/WBP).

Adapun, realisasi lifting migas pada semester I/2020 sebesar 1,714 juta barel setara minyak per hari atau 89,3 persen dari target APBN dan 99,3 persen dari target WP&B.

Target lifting pada tahun sebelumnya juga tercatat tidak tercapai, pada 2019 realisasi lifting migas mencapai 1,806 juta barel setara minyak per hari atau 90,5 persen dari target APBN dan 101,1 persen dari target WP&B.

Staf pengajar Universitas Trisakti Pri Agung Rakhmanto mengatakan bahwa secara umum, pola realisasi lifting Indonesia akan sama dengan beberapa tahun sebelumnya.

Menurutnya, dengan target yang terus diturunkan, capaian realisasinya belum tentu bisa menyentuh target yang dipatok.

“Kalau hanya mengandalkan lapangan yang susah mature, maka akan seperti itu polanya,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa realisasi yang di bawah target menunjukkan tren penurunan, hal itu menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi di sektor hulu migas Indonesia.

Baca Juga: Batu Bara Dinilai Siap Membara

Tanpa produksi dari lapangan migas baru berskala besar, tren capaian lifting nasional terus menurun.

“Semester II/2020 dengan ekspektasi ada sedikit pemulihan aktivitas ekonomi, yang bisa diharapkan ada peningkatan adalah lifting gasnya. Terutama serapan dari listrik dan industri pengguna gas yang kemungkinan sudah mulai berangsur pulih operasinya,” ungkapnya.