Tantangan Pemanfaatan Gas

Pembangunan infrastruktur energi menjadi hal yang penting karena dapat membuat roda perekonomian berjalan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Kemudian membantu pemerintah dalam pemenuhan energi dan pemanfaatan gas bumi, meningkatkan kemampuan distribusi gas bumi ke seluruh wilayah Kalimantan, dan mewujudkan Kalimantan menjadi kawasan Green Energy.

Untuk mencapai target peningkatan pemanfaatan gas bumi di Kalimantan, terdapat tantangan yang akan dihadapi.

Tantangan tersebut meliputi harga gas bumi yang lebih mahal dibanding batubara, dan kebijakan target bauran energi yang lebih memihak peningkatan pemanfaatan batubara untuk kepentingan dalam negeri. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Badan Pengatur mengusulkan beberapa saran yaitu, evaluasi dan penyusunan kebijakan terkait Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi.

Kemudian mengutamakan penggunaan gas bumi untuk industri berbasis solar dan batubara, perencanaan peningkatan penggunaan gas bumi 5 – 10 tahun ke depan, serta transparansi struktur biaya produksi gas bumi di sektor hulu migas. Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Bappenas sedang melakukan pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024.

Baca juga: Dari 7 Prolegnas Sektor Energi dan Pertambangan di DPR Nihil Realisasi

Rencana pembangunan tersebut akan menjadi acuan pembangunan nasional selama lima tahun ke depan, di mana salah satu major project yang diusulkan adalah pembangunan Ruas Pipa Tansmisi Gas Bumi Trans Kalimantan.

Moeldoko mengatakan, pembangunan Pipa Gas Trans Kalimantan dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Salah satu indikatornya adalah terwujudnya keadilan energi dan keadilan wilayah terutama Kalimantan yang telah memberikan konstribusi besar pada sektor energi untuk NKRI,” kata Moeldoko.

Saat ini, data BPH Migas menunjukkan, panjang pipa hilir gas bumi di Kalimantan hanya sekitar 702,38 km atau 4,94 persen dari total panjang pipa gas hilir di Indonesia yaitu 14.223,79 km.