Tanpa Kilang Minyak, RI Kalah di Hadapan Singapura!

Kilang Minyak
Tanpa Kilang Minyak, RI Kalah di Hadapan Singapura!

Data Dewan Energi Nasional (DEN) mencatat ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak semakin tinggi. Pada 2006, rasio ketergantungan impor ‘hanya’ 33% tetapi pada 2015 naik menjadi 44%.

Ketika impor minyak dan turunannya begitu besar, maka kebutuhan valas di dalam negeri pun tetap tinggi. Akibatnya, rupiah bakal sulit menguat karena ‘dibakar’ untuk membiayai impor.

Sepanjang Januari-September 2019, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut nilai impor produk olahan minyak adalah US $9,63 miliar. Dari jumlah tersebut, US$ 5,92 miliar (62,47%) datang dari Singapura.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) lagi-lagi mengungkapkan kekecewaan soal defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Eks gubernur DKI Jakarta itu menyebutkan penyebab masalah defisit transaksi berjalan adalah tingginya impor, salah satunya minyak dan produk turunannya.

Baca juga: Stok AS Bertambah, Harga Minyak Mentah Selip

“Kenapa sudah 30 tahun lebih kita tidak membangun satu kilang pun? Kilang ada turunannya, seperti petrokimia, masak kita masih impor. Ini tidak dikerjakan, ada apa? Ini gede banget,” tegas Jokowi belum lama ini.

Walau teritorinya tidak lebih luas dari DKI Jakarta, Singapura lebih maju dalam hal kepemilikan kilang minyak. Saat ini ada tiga kilang besar yang beroperasi di Negeri Singa yaitu ExxonMobil Jurong Island Refinery (kapasitas 605.000 barel/hari), SRC Jurong Island Refinery (290.000 barel/hari), dan Shell Pulau Bukom Refinery (500.000 barel/hari). Dengan kebutuhan domestik yang minim (populasi Singapura ‘hanya’ 5,7 juta), tidak heran Singapura punya kapasitas untuk menjadi pemasok energi bagi negara-negara tetangganya.

Menariknya, ternyata Singapura adalah importir terbesar minyak mentah asal Indonesia. Pada Januari-September 2019, nilai ekspor minyak mentah Indonesia ke Singapura adalah US$ 546,71 juta. Nilai ini mencapai 43,49% dari total ekspor minyak mentah Indonesia.

Jadi Indonesia menjual minyak mentah ke Singapura, kemudian diolah di sana. Singapura menjual produk olahan itu dengan harga lebih mahal, lebih dari 10 kali lipat.