Tambang Grasberg Terbuka Ditutup, Papua Kehilangan Ekonomi

Tambang Grasberg
Tambang Grasberg Terbuka Ditutup, Papua Kehilangan Ekonomi

Sebagai provinsi paling timur Indonesia, potensi provinsi Papua sangat melimpah,tidak kalah dengan provinsi-provinsi Indonesia lainnya.

Provinsi dengan penduduk sekitar 3 juta jiwa ini memiliki banyak kekayaan alam yang berpotensi mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk, seperti hasil hutan berupa kayu maupun non-kayu, tangkapan hasil laut, kekayaan flora fauna endemik yang hanya ada di Papua, serta alamnya yang masih asri dan alami yang indah sehingga mampu menarik turis lokal maupun mancanegara untuk berkunjung.

Selain itu, dari segi industri, Papua juga memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang terletak di kabupaten Membramo. Berdasarkan hitungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Mamberamo memiliki potensi tenaga air sebesar 12.284 MW yang tersebar di 34 lokasi. Ini berarti, hampir sepertiga dari potensi tenaga air di Indonesia itu berada di Mamberamo.

Namun, sampai saat ini yang paling berpotensi meningkatkan kesejahteraan Papua yaitu ada pada sektor pertambangannya.

Pertambangan merupakan sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang (UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara).

Pertambangan Papua

Papua memiliki tambang emas terbesar di dunia, yakni tambang Grasberg yang terletak di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika yang dikelola oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, di bawah bendera PT Freeport Indonesia.

Berdasarkan data 2018, Freeport memproduksi 6.065 ton konsentrat perhari. Konsentrat ini merupakan pasir olahan dari batuan tambang yang mengandung tembaga, emas, dan perak. Beliau juga mengatakan bahwa Freeport memproduksi 240 kg lebih emas perhari dari Papua.

Pernyataan bahwa industri pertambangan merupakan sektor paling menguntungkan atau berpotensi bagi perekonomian Papua juga didukung oleh data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua. Pada data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua, sektor yang mendominasi PDRB yakni ada pada sektor Pertambangan dan Penggalian yang selalu mendominasi dan terus mengalami kenaikan dari tahun 2015 hingga 2018 dengan angka sebesar 32,22% untuk tahun 2010 hingga mencapai angka 36,72% pada tahun 2018. Apalagi, Indonesia telah memiliki 51% saham PT Freeport, sehingga akan lebih dapat memperkuat perekonomian daerah dan negara.

Dampak Transisi Grasberg Open Pit menjadi GBC

Hasil pertambangan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga apabila digunakan terus menerus akan habis. Tambang sebesar Grasberg pun tidak menutup kemungkinan bahwa mineral yagng terkandung seperti tembaga, emas, dan perak pun akan habis.

Mineral tambang Grasberg akan habis pada pertengahan tahun ini. Sehingga perekonomian Papua diprediksi akan merosot pada tahun 2020 hingga 2022. Data pertumbuhan ekonomi oleh BPS Papua untuk tahun ini berkurang sebesar 20,13% pada triwulan pertama jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun lalu.

Pengurangan pertumbuhan ekonomi yang minus diakibatkan oleh pengurangan produksi tambang sebesar 51,52%, hal ini karena PT Freeport sedang dalam masa transisi dari penambangan terbuka (open pit) ke penambangan bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).

Dampak lanjutan dari penutupan tambang terbuka yakni pada nilai ekspor. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang di publikasi oleh BPS provinsi Papua, didapati bahwa ada penurunan nilai ekspor bulan Januari-Oktober 2018 ke bulan Januari-Oktober 2019, yang awalnya sebesar US$ 3313,49 juta menjadi hanya sebesar US$ 883,74 juta.

Dampak bagi tenaga kerja juga akan sangat terasa, dimana selama masa transisi open pit ke GBC akan banyak tenaga kerja yang menganggur sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) akan meningkat. BRS Ketenagakerjaan Provinsi Papua mengungkap hal tersebut, yakni dimulai dari bulan Februari 2018 ke bulan Agustus 2018 serta Februari 2019 ke bulan Agustus 2019 menyatakan kenaikan TPT. Pada tahun 2018, perubahan dimulai dari angka 2,91% naik menjadi 3,20%, sedangkan pada tahun 2019, perubahan dimulai dari angka 3,42% menjadi 3,65%.

Baca juga: Emil Salim Ungkap SDA Dikuasai Pengusaha Berkepentingan Politik

Adakah jalan keluar?

Meskipun terjadi penurunan produksi Freeport, penurunan pertumbuhan ekonomi, penurunan nilai ekspor, dan terjadinya peningkatan TPT, Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia Zulkifli Lambali mengatakan bahwa yang terjadi saat ini hanya sementara, karena cadangan ore yang berada di bawah tambang Grasberg mencapai 1,9 miliar ton, dan masa transisi sudah dilakukan sejak 2017 namun masih membutuhkan waktu 1-2 tahun lagi.

Freeport tidak akan mengurangi jumlah karyawan, mereka justru akan di training oleh Freeport untuk bisa bekerja di underground. Dengan cadangan ore sebesar itu, Freeport akan lebih banyak membutuhkan SDM sehingga training sangat perlu dilakukan.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang menurun tidak bisa dianggap sepele begitu saja. Perlu diadakannya solusi agar pertumbuhan ekonomi di Papua minimal tetap stabil.

Hal ini dapat diwujudkan apabila potensi-potensi di Papua dikelola dengan baik, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan serta menyerap lebih banyak tenaga kerja. Mengelola potensi di Papua secara merata dan maksimal juga akan mengurangi ketergantungan ekonomi Papua terhadap sektor pertambangan.

Menggantungkan kehidupan pada SDA yang tidak dapat diperbaharui secara berlebih juga akan menimbulkan akibat yang buruk bagi masa depan. Di masa depan, anak cucu kita tidak lagi dapat menikmati kekayaan Papua jika kita habiskan di masa sekarang.

Dengan mengembangkan dan memaksimalkan potensi lainnya di Papua akan membuat Papua menjadi provinsi yang kaya, mengingat provinsi ini punya banyak potensi sebagaimana yang telah di jelaskan pada awal paragraf. Tentu hal ini juga harus didukung oleh sumber daya manusianya yang unggul dan berkualitas, sehingga dapat mengelola Papua dengan baik dan bijaksana.