Strategi Hadapi Revolusi di Sektor Energi Disiapkan

Revolusi di Sektor Energi
Strategi Hadapi Revolusi di Sektor Energi Disiapkan

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa revolusi di sektor energi ditandai dengan adanya ketidakpastian, seperti pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pergerakan urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah, perubahan iklim, dan kemajuan teknologi.

PT Pertamina (Persero) menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan dan revolusi di sektor industri. Sejumlah proyek pun disiapkan untuk menjadi kekuatan utama dalam menghadapi perubahan.

“Pekembangan energi tidak luput dari global megatrend, penggunaan seluruh sumber daya manusia menjadi industrialisasi, seluruh sumber daya alam tereksploitasi, terjadi keterbatasan, climate change, dan di sisi lain terjadi pertumbuhan populasi yang sangat cepat,” katanya saat membuka Pertamina Energy Forum 2019.

Meski demikian, Nicke meyakini selalu ada faktor yang dapat diubah menjadi kesempatan dalam setiap tantangan. Bahkan, faktor tersebut dapat dimanfaatkan untuk didorong menjadi kekuatan utama untuk bertransformasi.

Strategi Hadapi Revolusi di Sektor Energi

Pertamina sendiri telah melakukan berbagai inisiatif untuk berkontribusi menurunkan impor. Salah satunya adalah megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR), dan proyek gasifikasi batu bara bersama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA).

Tidak hanya itu, Pertamina juga masuk ke biorefinery untuk memproduksi biodiesel. “Pertamina sudah siap menjalankan B30 mulai 21 November 2019. Ini cukup signifikan menurunkan impor,” ujarnya.

Seperti diketahui, sejak 21 November 2019 Pertamina sudah mulai menyediakan B30 di dua Terminal BBM dan akan terus diperluas ke titik distribusi lainnya hingga Desember 2019.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan Pertamina untuk meningkatkan capital inflow (arus modal masuk) ke dalam negeri, sehingga dapat menaikkan aktivitas eksplorasi, produksi migas, dan mengembangkan infrastruktur migas.

“Peran minyak dan gas sangat penting di tengah peningkatan permintaan kebutuhan energi dalam negeri,” kata Arifin.

Baca juga: Politik AS Gonjang-ganjing Harga Emas Naik Imbas

Menurutnya, pemerintah akan fokus kepada pertumbuhan ekonomi domestik dan pengentasan kemiskinan melalui ketersediaan energi yang terjangkau.

Arifin juga mengatakan, pemerintah mendorong pemanfaatan energi dalam negeri untuk mengurangi impor LPG melalui pengembangan dimethyl ether atau DME.

Sekadar diketahui, Pertamina Energy Forum 2019 pada 26—27 November 2019 mengusung topik ‘Driving Factors: What will Shape the Future of Energy Business’ bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik dan juga sebagai wadah diskusi lintas bidang energi, baik lokal maupun global.

Pertamina Energy Forum

Pembukaan Pertamina Energy Forum 2019 dihadiri 750 orang yang berasal dari berbagai sektor dan multinegara. Hadir pada kesempatan tersebut Menteri ESDM Arifin Tasrif, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dan perwakilan dari instansi, serta duta besar sejumlah negara.

Peserta yang hadir dalam ajang tersebut akan bersama-sama membahas mengenai perubahan besar yang terjadi pada sektor energi.

Hasil diskusi dan analisis yang lebih dalam di Pertamina Energy Forum diharapkan bisa menjadi pijakan kokoh bagi regulator dan pelaku bisnis energi di Indonesia untuk menyusun strategi terbaik dalam menghadapi fenomena global megatrends.