Strategi Emiten Batu Bara untuk Menjaga Keuntungan

Sejumlah emiten sektor batu bara meracik taktik menjaga keuntungan di tengah tren penurunan harga batu bara yang dinilai telah berimbas terhadap kinerja produksi pertambangan.

Dari sejumlah emiten produsen dan kontraktor pertambangan yang telah melaporkan kinerja keuangan selama 2019, mayoritas mengalami penurunan laba bersih. Bahkan, terdapat perseroan yang harus berbalik rugi per akhir Maret 2019.

Pertumbuhan laba bersih tercatat hanya dibukukan oleh sejumlah emiten. Sebagai contoh, PT Adaro Energy Tbk. yang masih mampu membukukan kenaikan laba, selain Adaro Energy, emiten produsen batu bara PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk. juga membukukan pertumbuhan laba bersih secara tahunan.

Nasib lebih baik dialami oleh emiten sektor kontraktor pertambangan batu bara. Pasalnya, beberapa di antaranya masih membukukan pertumbuhan laba bersih selama 2019.

PT Petrosea Tbk. misalnya, membukukan pertumbuhan laba bersih selama 2019, realisasi naik dari US$2,01 juta menjadi US$3,09 juta.

Baca Juga : Sejumlah Penambang Nikel Setop Produksi

Di sisi lain, PT United Tractors Tbk, yang menjalankan lini bisnis kontraktor pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara juga masih membukukan pertumbuhan laba bersih 20,62%.

Seperti diketahui, harga batu bara acuan (HBA) dilaporkan mencapai titik terendah sejak Agustus 2017 ke level US$81,86 per ton. HBA terbentuk dari empat indeks yakni Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Global Coal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 dengan bobot masing-masing 25%.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Suherman menjelaskan bahwa tren penurunan harga batu bara acuan juga berdampak terhadap penerimaan pendapatan perseroan. Akan tetapi, pihaknya menyebut telah menyiapkan strategi.

Emiten berkode saham PTBA itu menjalankan strategi meningkatkan penjualan batu bara kalori tinggi. Selain itu, perseroan juga menjaga beban biaya di level yang lebih efisien. “Strategi ini sudah diimpelementasikan dan terus dijaga pelaksanaannya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Indika Energy Tbk. Azis Armand mengatakan pihaknya akan selalu melakukan review terhadap biaya produksi. Artinya, setiap komponen biaya diusahakan bertambah efisien. “Itu variabel-variabel yang ada dalam kontrol kami,” jelasnya.

Di lain pihak, Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menjelaskan bahwa harga batu bara memang tidak bisa diprediksi perseroan. Oleh karena itu, pihaknya terus menjalankan efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh rantai bisnis sehingga menghasilkan kinerja operasional yang solid.

“Kami optimistis bisa mencapai panduan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization [EBITDA] yang ditetapkan senilai US$1 miliar—US$1,2 miliar,” ujarnya.