Stok Batu Bara di PLTU Jawa Bali Kritis

Must read

Stok Batu Bara di PLTU Jawa Bali Kritis
Stok Batu Bara di PLTU Jawa Bali Kritis

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan masalah pengiriman batu bara membuat stok di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di pulau Jawa dan Bali kritis. Bahkan, stok di sejumlah pembangkit PT PLN (Persero) tergolong kritis.

“Lambat laun stok batu bara (di PLTU) berkurang. Biasanya, aman 15 hari kemudian perlambatan (pengiriman batu bara) ini yang menggerus stok. Yang normal jadi siaga, ada yang kondisi darurat, malah ada yang kritis,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Rida Mulyana pada Rabu (27/1).

Sayangnya, Rida tidak merinci jumlah PLTU mana saja di pulau Jawa dan Bali yang stok batu baranya dalam keadaan kritis. 

Banjir serta cuaca yang tidak bersahabat membuat jangka waktu pengiriman stok batu bara dari Kalimantan Selatan ke pembangkit di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) bertambah lama. 

Rida menerangkan, waktu normal yang dibutuhkan yakni 4 hari, kemudian bertambah menjadi 7 hari atau lebih akibat kondisi tersebut.

Kendati demikian, Rida menegaskan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi opsi akhir untuk mengoperasikan pembangkit.

Pemerintah akan mendorong PLN untuk menggunakan gas sebagai substitusi batu bara apabila pasokan di pembangkit sudah menipis.

Apabila penggunaan gas sudah maksimum, baru Kementerian ESDM mendorong penggunaan BBM.

“Kalaupun gasnya sampai mentok, maksimum masih kurang juga, untuk penuhi kebutuhan, kami dengan sangat sangat sangat terpaksa, kami gunakan BBM,” ujar Rida. 

Penggunaan BBM menjadi opsi akhir operasional pembangkit lantaran harganya paling mahal sehingga bisa mempengaruhi biaya pokok tenaga listrik. 

Selain opsi tersebut, Kementerian ESDM masih mencari jalan lain, yakni mengusulkan penggunaan kapal barang untuk memuat batu bara.

Pertimbangannya, membawa batu bara menggunakan kapal barang bisa melindungi batu bara dari hujan sehingga kualitasnya terjaga.

Selain itu, muatan kapal barang lebih besar mencapai 62 ribu metrik ton (MT) dibandingkan kapal tongkang yakni 7.000 metrik ton. 

Baca Juga: Menteri ESDM: Pengurangan Impor BBM Terus Diupayakan

Tapi yang menjadi permasalahannya adalah tidak semua pelabuhan mampu disandari kapal barang.

Kementerian ESDM juga telah mengupayakan pengiriman batu bara dari Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.

“Kami akan menggeser atau menjadwal ulang waktu perawatan pembangkit. Kalau terjadwal di bulan-bulan ini kami jadwal ulang di semester kedua. Artinya tidak ada kekurangan pasokan listrik akibat maintenance (perawatan),” ucap Rida di akhir.

Menurut Pendapat Kamu ?

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article