Stok AS Bertambah, Harga Minyak Mentah Selip

Harga Minyak Mentah
Stok AS Bertambah, Harga Minyak Mentah Selip

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2020 diperdagangkan di level US $59,10 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 4.57 waktu setempat.

Pada perdagangan Selasa (10/12), WTI kontrak Januari ditutup naik 22 sen di level US $59,24.

Naiknya jumlah stok di Amerika Serikat (AS) mendorong harga minyak mentah tergelincir turun setelah mampu menyentuh level tertingginya dalam hampir tiga bulan pada akhir perdagangan Selasa (10/12/2019).

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Februari 2020 turun 8 sen ke level US $64,14 per barel di ICE Futures Europe Exchange, setelah berakhir di level US $64,34 pada perdagangan Selasa. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US $5,20 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Menurut sumber terkait, American Petroleum Institute (API) melaporkan peningkatan jumlah persediaan minyak mentah sebesar 1,41 juta barel pekan lalu.

Laporan ini bertentangan dengan survei Bloomberg terhadap para analis yang memprediksikan penurunan. Laporan persediaan mingguan resmi sendiri akan dirilis oleh pemerintah AS pada Rabu (11/12) waktu setempat.

“Laporan API tentang peningkatan stok minyak mentah, dan peningkatan yang besar dalam bensin dan minyak distilasi kemungkinan menyebabkan harga minyak mentah turun,” terang Michael Loewen, direktur strategi komoditas di Scotiabank, Toronto.

Jumlah Persediaan Minyak Mentah

Secara musiman, jumlah persediaan minyak mentah AS lebih tinggi dari rata-rata lima tahun. API juga melaporkan bahwa stok bensin dan minyak distilasi bertambah sebesar lebih dari 8 juta barel. Peningkatan stok bensin akan menandai kenaikan pekan kelima berturut-turut jika data pemerintah mengkonfirmasikannya.

Baca juga: Pengusaha Usul Aturan Harga Batu Bara Khusus Buat PLN Direvisi

Sementara itu, kekhawatiran mengenai prospek permintaan akibat perang dagang AS-China yang berkepanjangan tetap bertahan. Pemerintahan Presiden Donald Trump dijadwalkan akan mengenakan tarif baru terhadap impor China senilai US $160 miliar pada Minggu (15/12/2019).

Meski demikian, Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan sangat kecil kemungkinan tarif ini akan diberlakukan. Para pejabat pemerintah China juga dikatakan memperkirakan adanya penundaan tarif.

“Agar pasar [minyak] terdorong lebih tinggi, elemen kuncinya adalah penandatanganan perjanjian perdagangan antara China dan AS,” ujar Gene McGillian, manajer untuk riset pasar di Tradition Energy.

“Ini akan menghidupkan kembali harapan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan permintaan bahan bakar. Namun demikian, kita tidak memiliki bukti bahwa sebenarnya akan ada perjanjian perdagangan,” tambahnya.