Smelter Terkendala Pasokan Listrik

Smelter Terkendala Pasokan Listrik

Smelter Terkendala Pasokan Listrik
Smelter Terkendala Pasokan Listrik

Pandemi memaksa proyek smelter tersendat akibat kurangnya pasokan listrik.

Smelter pengolahan dan pemurnian feronikel milik perusahaan pelat merah PT. Aneka Tambang Tbk (Antam) di Tanjung Buli, Halmahera Timur hingga kini belum beroperasi akibat tak adanya pasokan listrik.

Akibat pandemi banyak kontraktor swasta yang gagal gagal membangun pembangkit sebagai pemasok aliran listrik untuk smelter.

Direktur Utama MIND ID, Orias Petrus Moedak menjelaskan saat ini pembangunan smleter sudah selesai.

Namum, pabrik pemurnian belum dapat  beroperasi karena tidak ada pasokan listrik.

Hal ini disebabkan kontraktor swasta yang bertugas membangun pembangkit tak menyelesaikan tugasnya.

“Ini kendalanya karena tidak adanya pasokan listrik. Pembangunan pembangkitnya tidak selesai,” ujar Orias, Rabu (1/7).

Orias bahkan mengatakan jika tak kunjung ada pasokan listrik maka proyek ini berpotensi membuat kerugian kepada negara.

Ia mengatakan sudah memberikan tugas khusus kepada direksi Antam untuk bisa mencari jalan keluar agar smelter bisa segera beroperasi.

Jika proyek dilanjutkan sekarang orientasinya bukan untuk mendapatkan keuntungan, namun untuk menyelamatkan uang negara yang sudah dikeluarkan.

Pasalnya, negara telah menyuntikkan langsung dananya sebesar Rp. 3,5 triliun melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

“Harus secara gamblang disampaikan kalau proyek ini dilanjutkan lebih ke penyelamatan apa yang sudah di-spend (dikeluarkan negara). Ini dana dari PMN sekitar Rp 3,5 triliun, tetapi tidak bisa sampai tuntas karena listriknya tidak ada,” kata Orias.

Dia menuturkan harusnya akhir Juni 2020 sudah ada kepastian dari PLN apakah bisa memasok listrik ke smelter.

Jika tidak maka Antam akan mencari sumber tenaga baru dari pihak ketiga lainnya.

Baca Juga: 10 Saham Paling Diincar Asing di Awal Agustus

Untuk jalankan rencana ini ternyata juga tidak mudah lantaran harga listrik yang ditawarkan juga sudah tinggi yang tentu akan berpengaruh pada biaya operasional smelter nantinya.