SKK Migas Proyeksikan Produksi Minyak 1 Juta Barel Sehari Pada 2030

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rudy Suhendar, menjelaskan eksplorasi pada cekungan migas baru menjadi keharusan mengingat konsumsi minyak bumi di Indonesia semakin meningkat.

“Saat ini jumlahnya berkisar 1,4-1,6 juta barel per hari. Dibandingkan dengan produksi per hari, kita masih harus mendatangkan dari impor,” jelasnya.

Jika kondisi ini tidak segera diatasi, Rudy memastikan akan berdampak pada ketahanan energi nasional. Apalagi, 80 persen produksi migas Indonesia berasal dari lapangan mature yang sudah puluhan tahun berproduksi. “Eksplorasi jadi kunci jika tidak ingin produksi migas terus terus,” katanya.

Produksi Minyak

Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Dwi Soetjipto menargetkan produksi minyak dalam negeri pada 2030 akan kembali mencapai 1 juta barel per hari. Saat ini produksi minyak per Oktober 748 ribu barel per hari dan 7,2 miliar standar kaki kubik gas per hari.

Hal ini disampaikan Dwi usai membuka konferensi Joint Convention Yogyakarta (JCY) 2019 di Hotel Tentrem, Sleman, Selasa (26/7).

Konferensi ini diikuti Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI).

Baca juga: Pembicaraan Dagang AS-China Positif, Harga Minyak Dunia Naik

“Saat ini Indonesia memiliki 128 cekungan migas, di mana baru 54 yang sudah dieksplorasi dan diproduksi. Sedangkan sisanya, 74 cekungan belum dieksplorasi,” ujarnya.

Dwi menjelaskan, belum tereksplorasinya cekungan migas ini karena berada di daerah yang terlalu frontier, hingga fasilitas yang kurang memadai dengan potensi yang tidak terlalu besar, sehingga keekonomiannya tidak memadai untuk investor.

Selain itu khusus wilayah Indonesia timur, tantangan eksplorasi yang dihadapi adalah berada di area laut dalam. Kendala lain belum tertariknya investor menanamkan investasi di sektor eksplorasi minyak bumi karena harga minyak dunia fluktuatif dan iklim investasi di Indonesia belum kondusif.

“Saya berharap acara ini dapat membantu mencari solusi untuk mengembangkan daerah berpotensi dengan lebih efektif dan efisien,” kata Dwi.

Bertema ‘Toward Massive Exploration and Maximizing Undeveloped Resources’, konferensi yang berlangsung pada 25-28 November ini dihadiri 1.000 ahli geologi, geofisika, teknik pertambangan dan perminyakan, juga pakar infrastruktur dari Indonesia dan luar negeri.