Sentimen Negatif Buat Harga Jual Emas Antam Merosot

Berdasarkan data Antam. Harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp408,5 ribu. 2 gram Rp1,48 juta. 3 gram Rp2,2 juta. 5 gram Rp3,66 juta. 10 gram Rp7,25 juta. 25 gram Rp18,03 juta. dan 50 gram Rp35,98 juta.

Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp71,9 juta, 250 gram Rp179,5 juta, 500 gram Rp358,8 juta, dan 1 kilogram Rp717,6 juta.

Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp768 ribu per gram pada Jumat (17/1) atau turun Rp4.000 dari Rp772 ribu per gram pada Kamis (16/1). Begitu pula dengan harga pembelian kembali (buyback) turun Rp5.000 dari Rp685 ribu menjadi Rp680 ribu per gram pada hari ini.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Baca Juga : Kendala Membayangi Produsen Batu Bara Siap untuk Penuhi DMO

Pada perdagangan internasional, harga emas berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.551,8 per troy ons atau menguat 0,08 persen. Sementara harga emas di perdagangan spot stagnan di US$1.552,52 per troy ons pada pagi ini.

Emas Akan Berbalik Melemah?

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan harga emas akan berbalik melemah pada hari ini. Proyeksinya, harga emas di pasar internasional akan bergerak di kisaran US$1.540 sampai US$1.560 per troy ons pada hari ini.

Ia mengungkapkan harga emas ‘putar balik’ karena sentimen kesepakatan dagang fase pertama Amerika Serikat dan China.

Mulanya, kata Ariston, kesepakatan ini memberikan sedikit sentimen negatif karena AS tetap memberlakukan tarif bea masuk impor terhadap produk-produk dari China.

Kebijakan tarif itu baru akan diubah bila kedua negara sudah selesai menyepakati perjanjian dagang fase kedua. Namun, sikap China yang menerima itu membuat pasar kembali optimis dengan kelanjutan dagang damai kedua negara.

“Kesepakatan ini memperbaiki hubungan dagang AS-China yang bisa membantu memulihkan pertumbuhan ekonomi global,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/1).

Sontak bursa saham di Negeri Paman Sam menguat usai kesepakatan dagang fase pertama AS-China. Begitu pula dengan tingkat imbal hasil (yield) surat utang atau obligasi AS yang turut menguat.