Sempat Murah, Harga Batu Bara Kembali Menguat

Harga batu bara kontrak ICE Newcastle kemarin ditutup menguat. Wabah COVID-19 masih menjadi sorotan utama di pasar, mengingat sekarang sudah menjangkiti lebih dari separuh negara di dunia.

Sempat-Murah-Harga-Batu-Bara-Kembali-Menguat
Sempat Murah, Harga Batu Bara Kembali Menguat

Kemarin (16/3/2020) harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup menguat 0,99% ke level US$ 66,1/ton. Penguatan harga batu bara didukung oleh harga yang sudah terlampau murah.

Harga batu bara sempat menyentuh level terendah di US$ 64,5/ton pada 9 Maret lalu dan menjadi harga terendah sejak September tahun lalu. Harga yang murah tentunya mulai dilirik oleh trader yang bersiap untuk melakukan aksi beli.

Saat ini pergerakan harga batu bara kontrak dipengaruhi oleh adanya wabah COVID-19 yang jadi pandemi. Bermula di China, wabah ini terus meluas ke berbagai penjuru dunia.

Kini jumlah kasus di luar China secara kumulatif telah melampaui total kasus di China. Sementara pertambahan jumlah kasus baru di China semakin hari semakin drop.

Hal ini bisa jadi sentimen positif untuk batu bara, mengingat China merupakan konsumen batu bara terbesar di dunia. Saat wabah COVID-19 merebak dan berada pada puncaknya di Februari, aktivitas ekonomi terganggu.

Baca Juga: Harga Gas Alam Merosot

Penurunan aktivitas terutama di sektor manufaktur mengakibatkan konsumsi listrik di China pada dua bulan pertama tahun ini turun 7,8% (year on year/yoy).

Dengan turunnya jumlah kasus di China serta kembalinya aktivitas perekonomian ini bisa jadi kabar bagus. Ini dikarenakan permintaan batu bara bisa perlahan pulih.

Namun apakah impor China akan meningkat drastis sehingga menggairahkan pasar batu bara Asia Pasifik jalur laut (seaborne), ini tergantung pada dua hal.

China Penyebab Naiknya Batu Bara

Pertama adalah seberapa cepat tambang-tambang batu bara China dapat beroperasi pada kapasitas penuh. Per awal Maret ini, rata-rata tambang batu bara China sudah beroperasi hingga 80% dari kapasitas maksimumnya.

Jika perbaikan dari sisi operasi terus terjadi pada laju yang signifikan dan mampu mengimbangi aktivitas ekonomi dan manufaktur, maka kebutuhan batu bara impor akan cenderung tertekan.

Faktor kedua yang juga mempengaruhi kinerja impor batu bara China adalah kebijakan impor batu bara pemerintah China.

Jika pemerintah membatasi kuota impor China seperti tahun-tahun sebelumnya. Maka ini bukan kabar yang baik untuk pasar batu bara Asia Pasifik, mengingat Korea Selatan dan India sedang terjangkit wabah COVID-19.

Apalagi Korea Selatan yang merupakan salah satu konsumen terbesar batu bara kawasan Asia dikabarkan akan menghentikan operasi 21-28 pembangkit listriknya yang menggunakan bahan bakar batu bara untuk melawan perubahan iklim.

Perlu diketahui, Korea Selatan memiliki kurang lebih 60 pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara dan berkontribusi sebesar 40% terhadap suplai listrik di Negeri Ginseng.

Jadi dapat dibayangkan jika lebih dari sepertiga pembangkit listriknya tidak dioperasikan maka permintaan dari Korea Selatan pun akan turun.