Sejarah Tambang Minyak Tradisional Wonocolo

Sejarah Tambang Minyak Tradisional Wonocolo

Sejarah-Tambang-Minyak-Tradisional-Wonocolo
Sejarah Tambang Minyak Tradisional Wonocolo

Siapa bilang tambang minyak selalu berisi dengan alat-alat berat nan besar dan megah. Tambang tradisional yang berada di dalam hutan ini sungguh jauh dari kesan tersebut.

Sensasi pertama ketika kita datang di hutan Desa Wonocolo, Bojonegoro, yang tercium adalah aroma minyak yang sungguh menyengat.

Bising suara besi berdentum memecah sepi di hutan jati yang terpencil juga sungguh mengagetkan. Suaranya menggema di antara bukit-bukit kapur yang mengitari hutan. 

Itulah suara pipa besi yang sangat berat menggali tanah hutan desa Wonocolo. Pipa besi itu membuat sumur yang sangat dalam.

Suara dentaman pipa besi kadang diiringi teriakan sekumpulan orang yang beramai-ramai menarik timba dari sumur.

Timba itu sangat berat sehingga harus ditarik sepuluh orang laki-laki. Dalam timba itu terdapat air bercampur lumpur.

Mengapa orang-orang itu repot mengambil air berlumpur? Air lumpur itu sangat berharga. Karena air lumpur itu mengandung minyak bumi. Ya, air lumpur itu jika direbus akan menghasilkan minyak tanah, bensin, dan solar.

Uniknya, penduduk desa Wonocolo merebus air lumpur itu dengan cara tradisional.

Mereka memanfaatkan alam sekitarnya untuk menyuling air lumpur jadi minyak. Tanah berbukit di sekitarnya dijadikan alat penyulingan minyak bumi secara sederhana. 

Tungku api dibuat di terowongan bawah tanah. Api itu memanaskan tong berisi air lumpur sampai mendidih. Air berlumpur yang mendidih, lalu menghasilkan uap minyak.

Sedikit demi sedikit, uap minyak akhirnya terkumpul hingga satu drum besar. Satu drum minyak yang sangat berharga. 

Ilmu menambang minyak tradisional ini dimiliki penduduk Wonocolo secara turun temurun. Dulu desa Wonocolo pernah menjadi desa terkaya di Indonesia.

Baca Juga: Harga Emas Melemah Drastis

Itu pada masa sebelum penambangan minyak modern datang ke desa Wonocolo. Kini banyak perusahaan asing menambang minyak di Desa Wonocolo.

Namun, penduduk Wonocolo tetap bertahan dengan tambang minyak tradisionalnya yang unik.