Saudi-Rusia Bersitegang, Minyak Dunia Kembali Rontok

Harga minyak mentah dunia kembali rontok pada perdagangan Senin (9/3), waktu AS. Penurunan harga minyak menjadi yang terbesar sejak Perang Teluk 1991. Pemicunya tak lain, perang harga produsen utama antara Arab Saudi dan Rusia.

Saudi-Rusia-Bersitegang-Minyak-Dunia-Kembali-Rontok
Saudi-Rusia Bersitegang, Minyak Dunia Kembali Rontok

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei anjlok US$10,91 atau 24,1 persen ke posisi US$34,36 per barel. Brent sempat turun 31 persen pada awal sesi menjadi US$31,02, yang merupakan tingkat terendah sejak 12 Februari 2016.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April jatuh US$10,15 atau 24,6 persen menjadi US$31,13 per barel. WTI sebelumnya anjlok 33 persen menjadi US$27,34 per barel, terendah sejak 12 Februari 2016.

Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan akan meningkatkan produksi. Pasalnya, pakta tiga tahun mereka dan produsen minyak utama lainnya atau dikenal sebagai OPEC+, gagal membatasi pasokan.

Sebelumnya, OPEC+ bertemu di Wina, Austria, pada 5-6 Maret guna membahas pasokan global di tengah penyebaran virus corona.

Namun, Rusia menolak menambah potongan produksi untuk mengatasi penurunan permintaan yang disebabkan virus corona.

Arab Saudi Tingkatkan Produksi Minyak

Diketahui, Rusia dan produsen lain telah bekerja sama selama tiga tahun untuk menahan pasokan melalui OPEC+.

Atas kegagalan kesepakatan itu, sebuah sumber mengatakan Arab Saudi berencana meningkatkan produksi minyak mentah di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April.

Baca Juga: Tiga Emiten Tambang Milik Negara Akan Lakukan Buyback

Rusia juga mengatakan bakal menambah produksi dan bisa mengatasi jatuhnya harga minyak ke level terendah selama 6 hingga 10 tahun.

Imbasnya, volume perdagangan pada bulan depan untuk kedua kontrak, baik Brent maupun mencapai rekor tertinggi.

Perang minyak kedua negara penghasil utama itu menekan harga saham-saham sektor energi. Saham Exxon merosot lebih dari 12 persen yang merupakan kejatuhan harian terbesar sejak 15 Oktober 2008.

Sementara, saham Chevron jatuh lebih dari 15 persen, atau kerugian terbesar sejak kejadian ‘Black Monday’ pada Oktober 1987.

“Prognosis untuk pasar minyak bahkan lebih mengerikan daripada November 2014, ketika perang harga seperti itu dimulai,” kata Goldman Sachs.