Saham Tambang Diburu Jelang Libur Natal, Bagaimana Besok?

Saham-saham tambang melesat dan diburu sebelum libur Hari Raya Natal 2019. Pelaku pasar memburu sektor pertambangan karena kinerjanya masih anjlok 12,3% sejak awal tahun (year to date/ytd).

Indeks sektor tambang Senin (23/12/2019) naik 3,1%, paling tinggi jika dibandingkan sektor lainnya. Saham-saham yang menjadi motor penggerak antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN) (+18,84%), PT Adaro Energy Tbk (ADRO) (+2,6%), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (+1,12%), dan PT Atlas Resources Tbk (ARII) (+10,16%).

Baca Juga : Daftar Panjang Oligarki Industri Ekstraktif

Secara teknikal, jika dilihat dari pergerakannya sektor pertambangan sedang bullish. Ini karena saham sektor itu bergerak di atas rata-rata nilainya (moving average) selama lima hari terakhir (MA5) seperti yang tercermin pada grafik di bawah ini.

Saat ini, indeks sektor tersebut berada di level 1.556, ada potensi hingga akhir tahun masih akan naik menguji level 1.600 atau secara persentase tersisa penguatan 2,83% untuk mencapai level tersebut.

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle pada Jumat (20/12/2019) justru ditutup pada level US$ 66,5/ton atau turun 1,117% dibanding periode sebelumnya.

Tahun Kelabu Bagi Batubara

Tahun ini menjadi tahun kelabu bagi komoditas batu bara. Sejak awal tahun, harga batu bara melorot lebih dari 30%. Harganya menyentuh titik terendah pada 28 Agustus di level US$ 63,1/ton.

Menurut kajian Refinitiv, produksi baja di China diperkirakan menurun. China merupakan negara penghasil baja terbesar di dunia. Pada 2018 lalu produksi baja kasar (crude steel) mencapai 1,8 miliar ton atau setara dengan 51,3% dari total produksi dunia.

Dalam pembuatan baja, bahan bakar yang digunakan dalam tanur adalah batu bara. Ketika produksi batu bara China yang notabene terbesar di dunia diramal turun maka permintaan batu bara juga ikut terimbas.

Pelemahan permintaan baja untuk pembangunan infrastruktur dan sektor manufaktur masih di bawah ekspektasi pasar. Hal ini mengingat belum adanya investasi bernilai besar untuk kedua sektor tersebut.

Pemangkasan produksi yang terjadi di pabrik baja di Hebei untuk mengontrol polusi pekan lalu berpotensi besar menyebabkan perlambatan permintaan batu bara.

Sumber : CNBC Indonesia