Saham Tambang Batu Bara Punya PER Rendah!

Saham Tambang Batu Bara Punya PER Rendah!

Saham-Tambang-Batu-Bara-Punya-PER-Rendah!
Saham Tambang Batu Bara Punya PER Rendah!

Bak dua sisi mata pisau, pelemahan IHSG juga membuat price to earning ratio (PER) saham-saham anggota LQ45 menjadi lebih murah, termasuk emiten pertambangan batubara yang ada di dalamnya.

Hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali keok dan ditutup melemah 1,28% ke level 5.154,105. Secara year-to-date, IHSG telah tergerus 18,18%.

Melansir RTI, sebanyak empat saham emiten batubara masuk ke dalam daftar 10 saham dengan PER terendah. Keempat saham tersebut adalah saham PT. United Tractors Tbk (UNTR) dengan PER 5,37 kali, PT. Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan PER 5,47 kali, PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan PER 5,67 kali, dan saham PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan PER 6,25 kali.

Baca Juga: Perang Minyak Hantam Dunia

Meski memiliki valuasi PER yang rendah, Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas melihat saat ini saham-saham emiten pertambangan khususnya batubara masih kurang seksi untuk dilirik. Sebab, komoditas batubara sedang menghadapi sentimen virus Covid-19 yang dibarengi oleh penurunan permintaan dari China.

“Dari segi permintaan batubara sedang turun karena aktivitas produksi di China sedang berhenti atau belum stabil,” terang Sukarno kepada Kontan.co.id, Rabu (11/3).

Setali tiga uang, Analis MNC Sekuritas Catherina Vincentia penurunan permintaan batubara dari China turut menjegal kondisi fundamental emiten batubara. Dari sisi kinerja, beberapa emiten tambang batubara juga mengalami penurunan.

ADRO misalnya,mengalami penurunan pendapatan sebesar 4,42% dari US$ 3,62 miliar menjadi US$ 3,46 miliar pada 2019. Alhasil, laba bersih ADRO juga turun 3,24% menjadi US$ 404,19 juta.

Pun demikian dengan PTBA. Emiten pelat merah ini harus merelakan laba bersihnya ambles 19,24% menjadi Rp 4,05 triliun. Meski demikian, PTBA masih berhasil membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 3% menjadi Rp 21,8 triliun.

“Karena kami melihat China sebagai salah satu importir terbesar batubara sedang melambat perekonomiannya sehingga akan berdampak pada sektor batubara domestik,” ujar Catherina

Apakah Ini Waktu Yang Tepat
Untuk Membeli Saham?

Dari sisi pergerakan saham, kinerja keempat saham ini juga tidak bagus-bagus amat. PTBA misalnya, secara ytd sahamnya ambles 17,29% sementara saham UNTR turun 24,27% sejak awal tahun.

Saham ITMG melemah 21,35 sejak awal tahun. Saham ADRO justru tergerus 37,94% sejak awal tahun.

Menurut proyeksi Sukarno, ke depan IHSG masih akan melanjutkan penurunan lebih dalam. Pun begitu dengan saham-saham ini yang masih akan sulit untuk kembali ke tren menguat (uptrend).

Meski demikian, Catherina menyarankan investor mulai bisa mencermati emiten batubara yang sudah melakukan diversifikasi usaha seperti PTBA dan ADRO.

PTBA misalnya, saat ini sedang melakukan pengerjaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8. PLTU yang terletak di Muara Enim tersebut memiliki kapasitas 2×620 megawatt (MW). Commercial Operation Date (COD) untuk unit I ditargetkan pada tahun 2021 sementara COD Unit II ditargetkan pada 2022 dengan kebutuhan total batubara mencapai 5,4 juta ton per tahun.

Sementara ADRO, memiliki beberapa anak usaha untuk menangkal efek pelemahan batubara. ADRO telah melakukan diversifikasi bisnis melalui delapan pilar bisnisnya, yakni Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, Adaro Power, Adaro Land, Adaro Water, Adaro Capital hingga Adaro Foundation.