Saham Sektor Tambang Terkoreksi

Indeks saham sektor tambang pada perdagangan sesi pertama hari ini, Selasa (7/1), ditutup terkoreksi 0,43%. Hal ini berbanding terbalik dengan perdagangan kemarin, yang mana sektor tersebut menguat 0,68% sekaligus menjadi katalis di tengah pelemahan sektor lainnya.

Terkoreksinya indeks sektor pertambangan sepanjang sesi pertama, antara lain disebabkan oleh turunnya saham perusahaan tambang berkapitalisasi pasar besar.

Saham PT. Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) misalnya, yang pada perdagangan sesi pertama turun 2,21% menjadi Rp 885 per saham diikuti penurunan saham milik PT. Aneka Tambang Tbk. (ANTM) 2,26% menjadi Rp 865 per saham. Kemudian, saham PT. Bukit Asam Tbk. (PTBA) turun 1,83% menjadi Rp 2.680 per saham dan PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) yang juga turun 0,42% menjadi Rp 11.750 per saham. Selanjutnya, saham PT. Vale Indonesia Tbk. (INCO) turun 0,28% jadi Rp 3.520 per saham.

Baca Juga : Pertambangan Lesu, Pajak Surut?

Meski begitu, beberapa saham pertambangan ada pula yang terpantau menguat, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang naik 0,68% menjadi Rp 1.475 per saham. Sedangkan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ditutup stagnan di harga Rp 15.550 per saham diikuti PT Merdeka Copper Gold Tbk di Rp 1.185 per saham.

Analis Binaartha Sekuritas

Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, tumbangnya saham sektor pertambangan sejalan dengan harga minyak dunia dan emas yang bergerak turun hari ini. “Ini dikarenakakan meredanya sentimen negatif dari serangan drone AS terhadap Mayor Jenderal Iran Qassiem di Irak,” katanya. 

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari 2020 tercatat turun 1,23% menjadi US$ 62,49 per barel. Sedangkan, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Maret turun 1,32% menjadi US$ 68 per barel.

Sementara, harga emas yang sempat melambung, pada perdagangan hari ini bergerak terkoreksi meski sangat tipis. Harga emas di pasar spot, pada pukul 08.00 WIB, sebesar US$ 1.565,27 per ons, turun tipis 0,04%.

Meski begitu, harga emas berada dalam tren menguat setelah mencapai level tertinggi selama tujuh tahun pada perdagangan kemarin di level US$ 1.568,19 per ons.

Harga emas naik setelah AS dan Iran bersitengang sepanjang akhir pekan. Ketegangan itu dipicu oleh serangan udara AS pada Jumat (3/1) waktu setempat di Baghdad, Iraq sehingga menyebabkan komandan militer tertinggi IranQasem Soleimani tewas.

Hal tersebut lantas menimbulkan kekhawatiran pasar akan timbulnya konflik di Timur Tengah sambil terus menanti kejelasan dampak insiden tersebut.

“Ekuitas rendah dan ini merupakan badai yang sempurna bagi emas mencapai level lebih tinggi dari sekarang sampai ada kejelasan terhadap situasi di sana,” kata Senior Market Strategist di RJO Futures Bob Haberkorn, Selasa (7/1).