Saham Pertambangan Diperkirakan Akan Terkoreksi

Saham Pertambangan Diperkirakan Akan Terkoreksi

Saham-Pertambangan-Diperkirakan-Akan-Terkoreksi
Saham Pertambangan Diperkirakan Akan Terkoreksi

Analis Pasar Modal Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, dengan adanya signal false break di level resistance tersebut peluang pergerakan IHSG cenderung terkoreksi jangka pendek terlebih dahulu dengan level stop-loss dibawah 4500.

Jakarta-Secara teknikal pergerakan IHSG berhasil menyentuh target FR38.2% dilevel 4590 dengan indikator RSI dan Stochastic yang bergerak positif. Konfirmasi pergerakan IHSG selanjutnya berada di resistance 4600.

“Sehingga kami perkirakan IHSG bergerak akan cenderung tertahan pada area resistance dan berpotensi terkoreksi mengalami aksi profit taking jangka pendek dengan support resistance 4500-4700,” katanya di Jakarta, Senin (30/3/2020).

Saham-saham yang masih dapat dicermati secara teknikal diantaranya; BBTN, BSDE, JSMR, LPPF, MAIN, TKIM, WSKT.

Akhir pekan lalu, IHSG (+4.76%) ditutup menguat 206.67 poin kelevel 4545.57 dengan indeks sektor Aneka Industri (+10.04%) dan Property (+7.85%) memimpin penguatan.

Rupiah yang kembali menguat sebesar 0.83% kelevel Rp. 16170 per USD menjadi pendorong aksi beli investor yang membuat IHSG mampu kuat tutup dilevel optimis.

Meskipun demikian investor asing melakukan aksi beli bersih hanya sebesar Rp. 221.32 miliar melihat kasus pandemic yang terus bertumbuh dan meluas masih menjadi pusat kekhawatiran investor.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Merosot 5%

Bursa eropa membuka perdagangan dengan terkoreksi setelah mengalami rentetan penguatan.

Indeks Eurostoxx (-2.48%), FTSE (-3.81%) dan DAX (-1.84%) ditutup melemah cukup signifikan mengiringi indeks ekuitas berjangka di AS.

Investor menarik nafasnya dan melakukan profit taking melihat pergerakan yang fluktuasi pada ekuitas global.

Sektor pertambangan dan perbankan memimpin pelemahan setelah para pemimpin wilayah berjuang untuk menyepakati strategi konkret untuk mengatasi dampak dari pandemic.

AS telah menyusul China untuk kasus virus terbanyak di seluruh dunia dipicu lonjakan besar infeksi di kota New York.

Investor masih akan terfokus pada data terbaru pada kasus pandemic dan menanti data awal bulan pada pekan depan.