Rusia Tertarik Investasi di Indonesia Kembangkan Hydropower

Pemerintah Rusia menyatakan ketertarikannya untuk bisa berinvestasi di Indonesia. Kini Rusia pun telah menawarkan berbagai kerja sama dengan Indonesia. Salah satunya seperti pengembangan energi hydropower dengan diolah 4 stage sebesar 30 (GW) gigawatt  di Mamberamo, Papua.

“Tadi kita bahas potensi investasi di Indonesia, sebagaimana kita ketahui Rusia sebagai salah satu negara besar, berpengalaman banyak soal energi,” ujar Sugeng Suparwoto selaku Ketua Komisi VII DPR RI pada Sabtu (6/2/2021).

Menurut Sugeng, keinginan investasi dari Rusia tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia,  Lyudmila G. Vorobyova dalam pertemuan dengan Komisi VII. 

Dalam pertemuan tersebut dibahas potensi-potensi kerja sama dalam membangun berbagai investasi menyangkut energi antara Indonesia dan Rusia, utamanya menyangkut Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Rusia menawarkan mau mengembangkan Hydropower di Memberamo Papua, dengan diolah 4 stage bisa sampe potensinya 30 Giga Watt,” tambah Sugeng.

Selain itu, Sugeng menegaskan, hasil pertemuan tersebut nantinya juga akan menjadi salah satu masukan dalam rangka menyusun Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan yang ditargetkan akan selesai pada Oktober 2021 mendatang. 

Perlu diketahui, dilansir dari data Kementerian ESDM, realisasi investasi sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) pada tahun 2020 sebesar US$ 1,36 miliar atau setara dengan Rp 19,04 triliun (kurs Rp 14.000). 

Investasi tersebut terdiri dari investasi panas bumi US$ 0,72 miliar, aneka EBT US$ 0,54 miliar, bio energi US$ 0,10 miliar, dan konservasi energi US$ 0,008 miliar.

Selain itu, adapun untuk tahun 2021, Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo telah menetapkan total target investasi sebesar Rp 900 triliun.

Baca Juga : Konsumsi Energi Diprediksi Naik Pada 2021

Hingga saat ini, perusahaan dari sejumlah negara dikabarkan telah menjalin kerjasama investasi dengan pemerintah.

Seperti perusahaan asal China Tsingshan, China’s Contemporary Amperex Technology (CATL), Lg Chemical asal Korea hingga Tesla dari Amerika Serikat.