Royalti 0% Batu Bara Beratkan Neraca Ekonomi?

Royalti 0% Batu Bara Beratkan Neraca Ekonomi?

Royalti 0% Batu Bara Beratkan Neraca Ekonomi?
Royalti 0% Batu Bara Beratkan Neraca Ekonomi?

Neraca ekonomi RI berpotensi berat sebelah setelah terbit insentif baru untuk produsen batu bara muncul dalam Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Pada klaster pertambangan, di Pasal 39 tercantum aturan pemberian royalti 0% untuk pelaku usaha yang melakukan hilirisasi.

Koordinator LSM yang bergerak pada memantau wacana batu bara Jaringan Advokasi Tambang Merah (Jatam) Johansyah berpendapat pasal tersebut cukup bermasalah dan sarat kepentingan.

“Itu berarti menggratiskan sumber daya alam. Berbahaya sekali,” kata dia

Perusahaan batu bara akan mudah meminta insentif dengan alasan mau melakukan hilirisasi.

Pendapatan negara, terutama penerimaan negara bukan pajak atau PNBP, berpotensi tergerus.

PNBP di sektor mineral dan batu bara (minerba) pada 2018 mencapai Rp 50 triliun. Sekitar 80% dari angka itu berasal dari setoran pengusaha batu bara.

Penerimaan terbesar berasal dari PT Kaltim Prima Coal. Dengan produksi 58 juta ton, anak usaha PT Bumi Resources Tbk itu menyetor PNBP mencapai Rp 6,55 triliun.

Lalu, PT Adaro Energy Tbk dengan produksi 54 juta ton memberikan pemasukan ke negara Rp 5,05 triliun pada 2018.

PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk, menghasilkan 34 juta ton pada tahun itu dengan total PNBP sebesar Rp 3,3 triliun.

Johansyah mengatakan UU Cipta Kerja tidak menjelaskan secara rinci kapan perusahaan dapat mengajukan royalti 0%.

Seharusnya, perusahaan mendapatkan insentif itu ketika sudah mengerjakan 50% proyek hilirisasi. Tujuannya, agar kejadian lama tak terulang kembali. 

Baca Juga: Batu Bara di Balikpapan Bisa Dikeruk?

Sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara alias UU Minerba, perusahaan tambang wajib melakukan hilirisasi.

Bahkan dalam aturan revisinya, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, kewajiban itu masih tercantum. Namun, sampai sekarang realisasinya minim.