RI New Normal, Hilirisasi Tambang Jalan Terus

RI New Normal, Hilirisasi Tambang Jalan Terus

RI-New-Normal-Hilirisasi-Tambang-Jalan-Terus
RI New Normal, Hilirisasi Tambang Jalan Terus

Menko bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pembangunan industri dari hulu ke hilir sangat penting dalam menggaet investasi.

Selama ini menurutnya Indonesia hanya mengekspor barang raw material.

Ia mencontohkan seperti yang terjadi di Freeport hanya mengambil raw material dan sebagian besar langsung diekspor.

“Tidak ada lagi investasi yang masuk ke Indonesia dia hanya cangkul-cangkul seperti Freeport ekspor raw material,” ungkap Luhut, Selasa, (02/06/2020).

Hilirisasi ini, imbuh Luhut, untuk meningkatkan nilai tambah. Misalnya saja dalam pembuatan baterai lithium raw materialnya ada di Indonesia sebagai bahan utama.

Ia menyebut Indonesia bakal menjadi produsen baterai lithium terbesar kedua di dunia di atas Filipina.

“Kita sekarang memainkan peran, gendang itu ada di kita oleh karena itu kita segera supaya ada tekhologi transfer dalam lithium baterai atau tekhnologi lainnya,” jelasnya.

Luhut mencontohkan, ekspor bijih nikel tahun 2018 dengan volume 19.25 juta ton nilainya hanya US$ 612 juta dengan harga US$ 31 per ton.

Kemudian setelah Nikel diproses menjadi stainless steel slab dengan volume 3.85 juta ton nilainya US$ 6,24 miliar per ton. Harga per ton US$ 1,602.

Baca Juga: Harga Minyak Untungkan Perdagangan Batu Bara?

“Berpuluh-puluh tahun kita hanya ekspor bijih nikel. Tidak pernah ada nilai tambah. 10 kali ini yang kita kejar, semakin tinggi pajak semakin tinggi pula pendapatan daerah,” kata Luhut.

Nikel Ore sangat penting untuk kebutuhan kendaraan listrik demi menjalankan Paris Agreement 2030. Artinya, international combustion akan hilang pada 2030 dan mereka akan lari ke litium baterai.

“Tahun 2030 mereka lari ke lithium baterai, kita produksi lithium baterei nomor dua di dunia,” ungkapnya.