RI dan China Menjadi Kunci Kinerja BUMI

RI dan China Menjadi Kunci Kinerja BUMI

RI-dan-China-Menjadi-Kunci-Kinerja-BUMI
RI dan China Menjadi Kunci Kinerja BUMI

Batu bara seringkali diidentikkan dengan energi yang bakal ditinggalkan, apalagi di tengah perlambatan ekonomi dunia tahun lalu yang membuat konsumsi energi menurun.

Namun PT. Bumi Resources Tbk mampu bertahan, berkat akses pasar China.

International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa batu bara masih menjadi sumber energi utama dalam sistem energi global tahun lalu, dengan menyumbang nyaris 40% dalam sistem bahan bakar pembangkitan listrik di seluruh dunia.

Dalam laporan terbarunya tentang industri batu bara berjudul “Coal 2019”.

IEA menyebutkan bahwa tahun lalu terjadi penurunan permintaan batu bara dunia.

Setelah pada tahun 2018 sempat mencatatkan pembalikan (rebound) permintaan batu bara sebesar 1,1%.

Namun dalam 5 tahun ke depan, permintaan batu bara dunia diprediksi stabil.

Pemicunya tak lain adalah maraknya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan Asia, yang laju kenaikan permintaannya mencetak rekor tertinggi dalam sejarah.

Tren kenaikan tersebut menambal lubang pasar di Eropa yang mulai banyak menutup PLTU mereka.

Indonesia dan Vietnam dinilai bakal memimpin permintaan batu bara di kawasan ASEAN tersebut, yang diperkirakan masih akan tumbuh lebih dari 5% per tahun sampai dengan tahun 2024 nanti.

Ini membalik proyeksi banyak kalangan sebelumnya yang memperkirakan tahun 2019 bakal menjadi tahun koreksi terbesar permintaan batu bara dunia.

Baca Juga: Produksi Dipangkas, Harga Minyak Sedikit Naik

Proyeksi tersebut, misalnya, dikeluarkan oleh Carbon Brief yang mengekspektasikan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik bakal anjlok hingga 303.000 megawatt (MW) di tingkat global.

Proyeksi lembaga anti-energi fosil tersebut terpatahkan. Indonesia sebagai produsen terbesar batu bara di Asia Tenggara justru mencatatkan produksi sebanyak 610 juta ton tahun lalu, atau seperempat lebih tinggi dari target pemerintah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) sebanyak 489 juta ton.