Restriksi Batu Bara oleh China tak Berimbas ke Pertumbuhan Ekonomi

Restriksi impor yang dilakukan oleh Tiongkok masih belum terasa dampaknya terhadap permintaan batu bara Kaltim yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Kaltim.

Sejumlah perusahaan pertambangan di Kaltim melakukan sistem kontrak jangka menengah-panjang dalam melakukan penjualan ke Tiongkok. Hal tersebut membuat permintaan akan terus terjaga.

Selain itu dampak monsoon (Badai) di India yang terjadi dari Juni hingga September 2019, juga mampu meningkatkan permintaan ekspor batu bara Indonesia menuju India.

Baca juga artikel terkait Restriksi Batu Bara: Batu Bara Lesu, Isu PHK Massal Sektor Pertambangan Muncul

Pasalnya badai tersebut cukup mempengaruhi produksi batu bara domestik India yang mengalami penurunan produksi mencapai 21%. Penurunan tersebut merupakan yang terendah dalam 3 tahun terakhir.

Positifnya kinerja pertambangan batu bara dan komponen ekspor tersebut, terkonfirmasi dari peningkatan volume ekspor batu bara sebesar 15,24% (yoy) di triwulan III/2019 yang didominasi oleh pengiriman ke India dan Tiongkok.

Di tengah harga batu acuan (HBA) yang mengalami penurunan dari awal tahun, banyak perusahaan batu bara yang mencoba mengejar target produksi serta melakukan langkah antisipatif penurunan harga lebih lanjut pada akhir tahun dengan melakukan produksi dan penjualan ekspor yang cukup tinggi hingga triwulan III/2019 ini.

Langkah antisipatif tersebut direspon positif oleh negara tujuan utama dengan permintaan yang terus tinggi baik dari Tiongkok maupun India.