Rencana Damai Dagang AS-China Dorong Harga Minyak Naik

Harga Minyak
Rencana Damai Dagang AS-China Dorong Harga Minyak Naik

Harga minyak mentah dunia berakhir di zona hijau pada perdagangan Kamis (12/12). Penguatan terjadi karena timbul harapan di pasar bahwa Amerika Serikat (AS) dan China akan segera mencapai kesepakatan perang dagang fase pertama.

Presiden AS Donald Trump menuliskan dalam akun pribadi twitter nya bahwa AS sudah hampir sepakat dengan China. Terlebih, AS juga sedang mempertimbangkan penundaan tarif yang akan berlaku pada 15 Desember 2019 mendatang.

“Sulit untuk menarik kesimpulan tegas dari situasi saat ini. Tampaknya sudah dekat (dengan kesepakatan). Tapi semua pihak sudah menunggu kesepakatan perang dagang ini terjadi,” ungkap Wakil Presiden Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, dikutip Jumat (13/12).

Mengutip Antara, harga minyak berjangka Brent naik sebesar US $0,48 per barel ke level US $64,2 per barel. Kemudian, harga minyak WTI meningkat US $0,42 per barel menjadi US $59,18 per barel.

Baca juga: Harga Emas Terjerembap Di Tengah Optimisme Kesepakatan Dagang

Salah satu sumber menyatakan AS dan China sebenarnya telah mencapai kesepakatan perdagangan secara prinsip. Sumber itu menyebut AS akan segera mengumumkan hal tersebut.

Trump sendiri telah berdiskusi dengan penasehat perdagangan utamanya kemarin. Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan kepada senator bahwa Gedung Putih akan segera mengumumkan keputusan AS terkait pengenaan tarif bea impor terhadap produk China.

Seluruh informasi ini menjadi angin segar untuk minyak mentah. Maklum, perkembangan perang dagang AS dan China akan mempengaruhi prospek permintaan minyak ke depannya.

Jika prospeknya buruk, maka harga minyak juga akan bergerak negatif. Sebaliknya, jika pemintaan meningkat, artinya harga komoditas itu bakal menguat.

Sebelumnya, harga minyak dunia melorot karena pasokan di AS meningkat. Harga minyak Brent terkoreksi sebesar US $0,62 per barel ke level US $63,72 per barel dan WTI turun US $0,48 per barel menjadi US $58,76 per barel.