Realisasi Produksi Batu Bara Lampaui Target!

Menurut Menteri ESDM, Arifin Tasrif, realisasi produksi batu bara lampaui target yang diperkirakan sebesar 489 juta ton. Produksi batu bara domestik ini juga paling tinggi dalam 5 tahun. Pada 2014, batu bara hanya bisa berproduksi sebesar 458 juta ton, 2015 meningkat tipis 461 juta ton.

Namun, di 2016, sempat merosot pencapaian produksinya sebesar 456 juta ton. Selanjutnya pada 2017, kembali berproduksi sebesar 461 juta ton. Kemudian pada 2018,  produksi batu bara melonjak drastis menjadi 557 juta ton.

“Ke depan pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan batu bara untuk kepentingan dalam negeri.” Ujarnya dalam paparan kinerja Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Pada tahun 2019, pemanfaatan batu bara domestik mencapai 138 juta ton dari produksi sebesar 610 juta ton. Sedangkan pada tahun 2020, ditargetkan sebesar 155 juta ton dari target produksi 550 juta ton.

Baca Juga : Persaingan Tambang Batu Bara RI

“Pemanfaatan juga akan kami tingkatkan dengan pemberian insentif gasifikasi batu bara untuk produksi dimethylether (DME), senyawa yang digunakan untuk menggantikan Liquified Petroleum Gas (LPG) yang selama ini kebanyakan kita impor,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, mengatakan batu bara lampaui target tahun 2019. Didorong oleh banyaknya para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang mendorong produksinya ke level tinggi.

“IUP yang meningkat ke tahap produksi cukup besar, hampir 1.000-an lebih,” ujarnya. Sebelumnya, Kementerian ESDM memutuskan kelanjutan kebijakan terkait penjualan batu bara untuk kepentingan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Batubara, Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi Batubara, dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara tahap Operasi Produksi.