Realisasi Investasi Sektor Minerba Tak Tembus Target

Realisasi Investasi Sektor Minerba Tak Tembus Target

Realisasi Investasi Sektor Minerba Tak Tembus Target
Realisasi Investasi Sektor Minerba Tak Tembus Target

Pandemi corona (Covid-19) membuat pasar dan harga komoditas tertekan, begitu juga dengan proyek dan aktivitas pertambangan yang ikut terhambat.

Oleh sebab itu, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memperkirakan, investasi di sektor mineral dan batubara (minerba) tahun ini bakal meleset dari target.

Perhapi memprediksi, realisasi investasi sepanjang tahun 2020 hanya bisa mencapai sekitar 60%-70% dari yang sudah ditargetkan.

Fokus perusahaan tambang saat ini lebih untuk bisa bertahan, ketimbang harus agresif menggenjot investasi.

Sehingga investasi baru akan mengalami pergeseran waktu atau penundaan.

Investasi terjadi pada semua subsektor tambang baik mineral maupun batubara lesu, juga untuk semua jenis segmen dan perizinan.

Namun dari semua itu, dampak terbesar adalah industri pertambangan batubara.

Karena batubara merupakan salah satu sumber energi yang masih dominan.

Sehingga saat pandemi melumpuhkan ekonomi, konsumsi energi dan listrik pun anjlok. Akibatnya, pasar dan harga batubara juga terkoreksi tajam.

Kondisi pasar yang sebelumnya sudah kelebihan pasokan (oversupply) semakin menjadi.

Sehingga berdampak pada tergerusnya harga rerata batubara hingga menyentuh US$ 49 per ton. Kondisi harga ini menjadi yang terendah sejak tahun 2016. 

Baca Juga: Mengukur Aspek Pajak dari Pertambangan Batu Bara

Penurunan ini berdampak pada revenue yang diperoleh produsen batubara. Dampak lanjutannya adalah sektor jasa atau kontraktor yang menyertainya.

Dari sisi mineral, pengembangan hilirisasi atau pembangunan smelter mengalami hambatan. Alhasil, investasi menjadi tertunda.