Q1 Harga Batu Bara Tak Bagus, Tapi 5 Emiten Ini Raup Untung

Q1 Harga Batu Bara
Sudut Energi - Q1 Harga Batu Bara

Emiten-emiten tambang batu bara mengalami masa sulit sepanjang kuartal I-2019. Bagaimana tidak, Q1 harga batu bara global berada dalam tekanan yang menggerus keuntungan perusahaan, khususnya perusahaan yang penjualannya berorientasi pada ekspor.

Namun nyatanya tidak semua emiten pasrah begitu saja pada keadaan. Beberapa perusahaan justru bisa membukukan pertumbuhan laba bersih yang gemilang pada kuartal I-2019.

Dari 18 emiten tambang batu bara yang telah merilis laporan keuangan kuartal I-2019, enam di antaranya berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih yang positif.

Pertumbuhan Laba Bersih Kuartal I-2019 YoY (%)

Kali ini yang menjadi primadona ditinjau dari pertumbuhan laba bersih adalah PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS). Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 0,9 juta pada kuartal I-2019, meningkat hingga 800% dibanding kuartal I-2018 yang hanya US$ 0,1 juta. Kunci dari kinerja BOSS yang cemerlang adalah peningkatan penjualan bersih (sales) dan efisiensi beban usaha. Pasalnya, penjualan bersih perusahaan bisa tumbuh 39,6% secara year-on-year (YoY) di kuartal I-2019. Pada saat yang sama, marjin laba bersih (net profit margin/NPM) juga meningkat menjadi 14,1% dari yang sebesar 9,7% di kuartal I-2018.

Baca Juga artikel terkait Q1 Harga Batu Bara Tak Bagus, Tapi 5 Emiten Ini Raup Untung: VMining Dirilis, E-Commerce Batu Bara Pertama di Indonesia

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menyusul dengan dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 60,6% menjadi US$ 74,2 juta di kuartal I-2019. Selain karena berhasil mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 10% YoY, perusahaan juga mendapatkan keuntungan dari tambang batu bara Kestrel sebesar US$ 24,5 juta. Alhasil meskipun marjin EBITDA perusahaan bertahan di 34%, namun NPM melesat jadi 14.1% dari yang semula 9,7%.

Peringkat ketiga kali ini berhasil dipegang oleh PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 55% YoY. Berbeda dengan dua perusahaan sebelumnya, Petrosea tidak melakukan jual beli batu bara atau hasil tambang lainnya. Sebagian besar pendapatan Petrosea didapat dari kontrak jasa pertambangan (US$ 63,3 juta). Ada pula pendapatan yang berasal dari jasa konstruksi (US$ 20,3 juta) dan rekayasa/engineering (US$ 12,9 juta).

Kinerja perusahaan yang semakin baik lebih ditopang peningkatan penjualan dan efisiensi yang berhasil dilakukan pada saat yang sama. Total penjualan sepanjang kuartal I-2019 naik hingga 13,8% YoY. Sementara marjin EBITDA meningkat menjadi 21,9% dari yang semula 20,2%.