Proyeksi Negatif Harga Batu Bara RI

Harga Batu Bara
Proyeksi Negatif Harga Batu Bara RI

Penurunan harga komoditas disebabkan oleh penurunan harga batu bara, CPO, dan logam. Penurunan harga batu bara terutama disebabkan oleh penurunan permintaan.

Indeks harga komoditas ekspor pada awal November 2019 minus hingga 4%, lebih dalam ketimbang selama 2018 yang minusnya hanya 2,8%. Nah, ada ramalan khusus harga batu bara.

“Ke depan, harga batu bara diperkirakan masih berada dalam tren menurun seiring dengan masih lemahnya ekonomi global, terutama Tiongkok dan India, serta semakin meningkatnya komitmen untuk mensubstitusi penggunaan batubara dengan energi ramah lingkungan,” ungkap BI.

“Pelemahan ekonomi global terus menekan harga komoditas,” tulis Bank Indonesia dalam laporan Tinjauan Kebijakan Moneter November 2019 seperti ditulis Senin (2/12/2019).

Harga komoditas batubara ditutup tak bergerak pada perdagangan pekan lalu. Impor batu bara mingguan negara-negara kawasan Asia juga diperkirakan turun.

Harga batubara kontrak futures ICE Newcastle ditutup di US $68,9/ton atau flat alias tak bergerak pada perdagangan kemarin.

Baca juga: Harga Emas Spot Antam Melemah

Harga batubara mulai terperosok pada 22 November 2019, setelah mengalami reli cukup panjang dalam delapan periode perdagangan beruntun (12-21 November 2019).

Sementara, hingga triwulan III-2019, harga CPO masih relatif rendah. Ke depan, harga CPO berpotensi membaik seiring implementasi kebijakan penggunaan biofuel dan harga soybean oil (substitusi) yang diperkirakan meningkat.

Sebagian besar harga logam menurun kecuali nikel. Harga tembaga dan timah menurun seiring kontraksi sektor manufaktur sebagaimana tercermin dari tren penurunan PMI. Sebaliknya, harga nikel meningkat karena larangan ekspor nikel Indonesia mulai tahun 2020.

“Pelarangan ekspor tersebut diperkirakan semakin meningkatkan defisit nikel global sehingga mendorong harga nikel tetap berada pada level tinggi”.