Proyeksi Ekspansi Tambang Batubara Tahun 2020

Tren batubara di tahun 2019 tampaknya akan berlanjut di tahun 2020 ini. Selain kondisi pasar dan pergerakan harga yang cenderung stagnan, ekspansi di sektor emas hitam ini pun diprediksi akan kembali sepi, termasuk dalam aksi akuisisi tambang.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, tren pasar dan pergerakan harga saat ini membuat perusahaan batubara akan lebih berhati-hati untuk menanamkan investasi.

Hendra bilang, perusahaan akan lebih berusaha untuk melakukan efisiensi dengan menekan biaya produksi. Meski begitu, Hendra mengatakan bahwa jika perusahaan melihat outlook bisnis batubara masih belum bisa membara dalam beberapa waktu ke depan, maka kondisi saat ini bisa menjadi momentum untuk melakukan ekspansi dalam investasi di bisnis non-batubara. Namun, ekspansi dalam rangka diversifikasi bisnis ini bukanlah hal yang mudah. Selain nilai investasi yang tinggi, diversifikasi bisnis ini pun bersifat jangka panjang.

Proyeksi-Ekspansi-Tambang-Batubara-Tahun-2020-2
Proyeksi Ekspansi Tambang Batubara Tahun 2020

Sehingga, perusahaan juga akan melihat sisi dukungan regulasi dan kepastian hukum yang diberikan pemerintah.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Indonesian Mining and Energi Forum (IMEF) Singgih Widagdo. Menurutnya, perusahaan akan mengerem ekspansi, terutama dari sisi akuisisi lahan tambang, juga terpengaruh oleh langkah pemerintah yang akan memperketat pengawasan dan pengendalian produksi.

Baca Juga : 2020 China Akan Mengurangi Impor Batu Bara

Seperti diketahui, realisasi produksi pada tahun lalu mencapai rekor hingga 610 juta ton, atau 124,74% dari target produksi di tahun 2019.

Untuk tahun ini, pemerintah mematok target produksi batubara nasional di angka 550 juta ton. Pemerintah pun berkomitmen untuk memperketat pengawasan agar realisasi produksi tidak meroket dari target seperti di tahun terakhir ini.

Sekali pun ada ekspansi atau akuisisi, Singgih memprediksi hal itu tidak akan terjadi di awal tahun. Sebab, perusahaan akan terlebih dulu melihat hasil evaluasi pemerintah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dilakukan di tengah tahun.

Sejumlah emiten batubara pun mengamini hal tersebut. Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk Febriati Nadira mengatakan, rencana bisnis perusahaan berkode emiten ADRO ini memang baru akan dirilis pada awal Februari 2020.

Namun, dirinya memastikan bahwa ADRO belum memiliki agenda ekspansi seperti akuisisi tambang baru.

Namun, Nadira mengatakan, bahwa Adaro tetap akan fokus melakukan diversifikasi pada bisnis non-batubara, khususnya di listrik dan air bersih.

Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga belum berencana untuk melakukan ekspansi dalam bentuk akuisisi lahan tambang di tahun ini.

Proyeksi-Ekspansi-Tambang-Batubara-Tahun-2020-3
Proyeksi Ekspansi Tambang Batubara Tahun 2020

Namun, Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan, pihaknya akan fokus untuk mengoptimalkan aset eksisting dan juga diversifikasi pendapatan dari anak usaha yang bergerak di bidang non-batubara, yakni melalui tambang mineral dan logam di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Baca Juga : Strategi Sejumlah Perusahaan Batubara Mengantisipasi Dampak Musim Hujan Tahun Ini

Dari BRMS, Dileep mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa memulai percobaan produksi emas di PT. Citra Palu Minerals pada Kuartal I 2020. Setelah itu, dilanjutkan dengan produksi komersial seng dalam kurun waktu sekitar dua tahun, dari proyek Dairi yang bermitra dengan China Non Ferrous Metals (CNFC).

Namun, hal yang berbeda ditunjukkan oleh PT ABM Investama Tbk (ABMM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Kedua emiten batubara ini optimistis bisa menuntaskan agenda ekspansi melalui akuisisi tambang pada tahun 2020 ini.

Direktur ABMM Adrian Erlangga mengatakan, pihaknya tengah mengincar tambang batubara baru yang memiliki nilai kalori menengah-tinggi. Saat ini, kata Adrian, pihaknya tengah melakukan review dan berharap bisa segera masuk ke tahap uji kelayakan alias due diligence.

Namun, Adrian masih enggan mengungkapkan tambang mana yang tengah menjadi incaran, berapa nilai cadangan, serta anggaran yang disiapkan ABMM untuk melakukan akuisisi. “Belum bisa saya sampaikan, masih kita review. InsyaAllah (akuisisi) dilakukan tahun ini,” sebutnya.

Adrian berpendapat, pergerakan pasar dan tren harga batubara saat initidak menjadi penghalang untuk melakukan akuisisi. Asalkan, katanya, perusahaan menemukan kecocokan dalam harga, jenis dan juga cadangan batubara yang diinginkan.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin juga mengatakan hal yang serupa. Saat ini pihaknya akan segera melakukan due diligent untuk mengakuisisi tambang.

Menurut Arviyan, meski dengan kondisi pasar dan harga saat ini. Pihaknya akan melakukan optimalisasi tambang eksisting sembari menjajaki akuisisi tambang dan fokus pada diversifikasi, khususnya dalam proyek gasifikasi batubara.