Proyek Hilirisasi Emiten Tambang Tetap Tepat Waktu?

Proyek Hilirisasi Emiten Tambang Tetap Tepat Waktu?

Proyek Hilirisasi Emiten Tambang Tetap Tepat Waktu?
Proyek Hilirisasi Emiten Tambang Tetap Tepat Waktu?

Target Indonesia meningkatkan nilai tambah pada produksi mineral dan batu bara tanah air dengan hilirisasi berpotensi mundur dari target. 

Rencana proyek hilirisasi milik emiten pertambangan dalam negeri terhambat oleh  sejumlah faktor. Pandemi Covid-19 adalah pemicu utamanya sehingga proyek hilirisasi mengalami kekurangan tenaga kerja bahkan sampai kesulitan mencari investor.

Direktur Keuangan PT. Vale Indonesia Tbk. Bernardus kebijakan sejumlah negara untuk membendung penyebaran virus membuat mobilitas pekerja.

Terutama pekerja asing terhambat. Dia mengungkapkan, penutupan bandara di sejumlah negara juga membuat perseroan kesulitan untuk bernegosiasi dengan calon investor sehingga belum ada keputusan final.

“Walaupun proyek itu ada sedikit kendala karena  limitasi dalam traveling. Kami terus berdiskusi tentang key term sheet untuk memenuhi target FID [final investment decision] pada kuartal I/2021,” ujar Bernardus.

Bernardus menerangkan, profil proyek juga menjadi aspek penting agar investor tertarik menanamkan modal di proyek smelter yang berlokasi di Pomalaa dan Bahodopi.

Dia menyebut, perseroan harus memastikan proyek ini memiliki return yang memadai bagi investor.

Hal ini antara lain disebabkan pinjaman dari perbankan untuk pembiayaan proyek ini terbatas. 

Untuk diketahui, INCO berencana untuk membangun  smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tengah dan smelter feronikel di Bahodopi, Sulawesi Tenggara yang konstruksinya masing-masing diharapkan rampung pada 2025 dan 2024.

Adapun, proyek Pomalaa diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$2,5 miliar sedangkan proyek Bahodopi membutuhkan US$1,5 miliar.

Namun, Bernardus menjelaskan bahwa kedua proyek itu masih dalam tahap studi kelayakan sehingga angka final total investasi dapat berubah dan dipastikan saat FID.

Baca Juga: UU Minerba Dongkrak Royalti Pertambangan

Sementara itu, penyelesaian proyek penghiliran milik emiten pertambangan logam, PT. Kapuas Prima Coal Tbk., tertunda akibat keterbatasan tenaga kerja untuk meneruskan proyek tersebut.