Proyek Hijau PLN

PT. PLN menggunakan metode co-firing untuk mendorong pemanfaatan energi baru (proyek hijau PLN) terbarukan di sejumlah PLTU. Dengan teknologi ini, pemanfaatan bahan bakar dari biomassa dan sampah dapat dilaksanakan tanpa perlu membangun pembangkit.

Proyek-Hijau-PLN
Proyek Hijau PLN

“Mengoptimalkan energi terbarukan dalam mendorong target bauran EBT sebesar 23% pada 2025. Uji coba co-firing telah dilakukan di berbagai PLTU di Indonesia dengan campuran co-firing 1 sampai 5%,” kata Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta Selasa (25/2).

Implementasi teknologi co-firing PLTU dapat menyubstitusi batubara dengan bahan bakar energi terbarukan pada rasio tertentu. Penggunaan teknologi ini disebut tetap akan memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai kebutuhan.

Baca Juga : Sinergi Batu Bara dan Energi Terbarukan di Pembangkitan Jawa-Bali

Menurut Agung co-firing umum diterapkan pada PLTU batubara di Eropa dan Amerika. Bahan baku campuran co-firing yang digunakan adalah biomassa. Ini juga termasuk sampah yang dilakukan pengolahan menjadi pellet sampah, pellet kayu maupun wood chip.

Uji Coba Co-Firing

Pihak PLN telah mengujicobakan co-firing salah satunya di PLTU Jeranjang, Nusa Tenggara Barat. Ini dilakukan dengan menggunakan pellet biomassa hasil dari metode Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang telah dikembangkan oleh STT PLN, PT IP dan Pemkab Klungkung.

Memanfaatkan wood pellet dan palm kernel shell, pembangkit PJB juga telah melakukan uji coba di 5 PLTU jenis PC (Pulverized Coal) dan CFB (Circulating Fluidized Bed).

“Uji coba co-firing juga dilakukan di PLTU Paiton, PLTU Indramayu dan PLTU Rembang dengan memanfaatkan wood pellet. Dan PLTU jenis CFB yakni PLTU Ketapang dan Tenayan dengan biomassa palm kernel shell dari sawit,” ungkap Plt Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani dalam FGD Co-firing PLTU Batubara. Hal ini disampaikan di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Jakarta, Selasa (25/2).

Inten menguraikan, uji coba co-firing mulai dari 1%, 3%, hingga 5% dan bekerja sama dengan beberapa pihak lain diantaranya IPB, MHPS & Sumitomo FW, BPPT, ITS, Lemtek UI, PLN Puslitbang dan Pusenlis.

Hasilnya, dari berbagai parameter meliputi visual mixing, material pyrite, parameter operasional coal mill untuk point critical (seperti arus coal mill, bowl pressure, mill outlet temperature) serta temperatur FEGT pada co-firing batubara dan wood pellet hingga 3% menunjukkan hasil yang baik dan masih aman bagi coal mill.

Lebih lanjut, Inten mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan 1% co-firing di PLTU di Indonesia, maka dibutuhkan biomassa sebanyak 17. 470 ton/hari atau 5 juta ton wood pellet per tahun, ekuivalen dengan 738. 000 ton/tahun pellet sampah.

Selanjutnya, PLN akan memetakan masing-masing PLTU di Indonesia dalam matriks hubungan kapasitas EBT yang dapat dihasilkan dengan ketersediaan feedstock dalam radius 50 km sekitar PLTU.

“Manajemen feedstock menjadi poin penting pembahasan selanjutnya. Dibutuhkan pula untuk keberlangsungan jangka panjang penyiapan mesin pellet oleh industri lokal yang menunjang ketahanan feedstock,” tandas Inten.

Untuk diketahui, potensi besar yang dapat dimanfaatkan adalah sampah domestik. Sampah domestik ini memiliki nilai kalor sekitar 1.000 kkal/kg, lebih rendah dibandingkan jerami padi (2.400 kkal/kg) atau sekam (3.000 kkal/kg).