Produksi Logam Tanah Jarang China Naik, Rencana AS Terancam

Melonjaknya produksi logam tanah jarang (rare earth) di China menghadirkan tantangan baru bagi upaya di Amerika Serikat dan negara lain untuk melemahkan dominasi Negeri Panda.

Raksasa Asia ini diketahui menghasilkan sekitar 70 persen logam tanah jarang yang ditambang serta mengendalikan 90 persen dari pasar global bahan baku tersebut yang banyak digunakan dalam magnet dan mesin smartphone hingga pesawat tempur.

Bulan ini, China menyatakan tengah meningkatkan kuota penambangan tahunan untuk logam tanah jarang menjadi 132.000 ton atau 10 persen di atas rekor tertinggi pada tahun lalu.

Langkah itu cenderung membebani harga global, dengan memberikan pukulan bagi para pesaingnya termasuk AS dan Australia, yang pada pekan lalu sepakat untuk bersama-sama mengakselerasi proyek-proyek baru dalam upaya diversifikasi rantai pasokan.

Di AS, situasi itu tepat menyasar pada MP Material, yang menjalankan tambang logam ini yang beroperasi di California, AS. Perusahaan berharap untuk menggandakan produksinya menjadi lebih dari 30.000 ton tahun ini, atau sekitar 15 persen dari total global, menurut sumber Bloomberg.

Baca juga: Petronas CS Ogah Beli Saham IPO Aramco, Ada Apa?

Saat ini, produksinya dikirim ke China untuk diproses. Namun, CEO JHL Capital Group LLC James Litinsky menilai hal itu bisa berubah pada tahun depan.

Logam Tanah Jarang

Logam tanah jarang adalah 17 elemen yang terkait secara kimia yang memiliki sifat magnetik dan berpendar. Meski tidak selangka emas atau perak, unsur-unsur ini tidak sering ditemukan dalam volume besar dan membutuhkan pemrosesan intensif untuk menghasilkan bahan baku bagi pengguna akhir.

Sekitar 30 tahun lalu, Pemerintah China telah memutuskan untuk menjadikan logam tanah jarang bahan baku strategis dan melarang pihak asing menambangnya.

Pada Juli 2019, Presiden AS Donald Trump memerintahkan Departemen Pertahanan (Dephan) AS untuk memacu produksi sejumlah magnet logam tanah jarang yang digunakan dalam perangkat keras militer, di tengah kekhawatiran bahwa China dapat kapan saja membatasi ekspor produk itu.

Para ilmuwan Survei Geologi AS juga telah mengunjungi proyek-proyek di Australia pada tahun lalu, termasuk pengembangan Browns Range dari Northern Minerals Ltd.

Pada Agustus 2019, Lynas Corp. yang berbasis di Malaysia, pemasok terbesar logam ini di luar China, mengadakan diskusi dengan Dephan AS dan Badan Logistik Pertahanan. CEO Lynas Amanda Lacaze menuturkan bahwa perusahaan, dengan tambang di Australia dan pabrik pemrosesan utama di Malaysia Timur, sedang mengembangkan rencana untuk menambah fasilitas di Texas, AS.

Sementara itu, pertemuan bulan ini antara pejabat Pemerintah AS dan Australia telah meresmikan kemitraan yang dimaksudkan untuk meningkatkan pasokan logam ini dan mineral penting lainnya dari luar China.

Menteri Sumber Daya Australia Matt Canavan menyampaikan lembaga keuangan ekspor di kedua negara itu akan mempertimbangkan langkah-langkah baru untuk membantu mempercepat proyek-proyek tambang.

Pengembang di sejumlah negara, mulai dari Greenland hingga India, juga telah berupaya membangun operasi baru tetapi mengalami progres lambat di tengah terbatasnya akses ke pendanaan dan fluktuasi harga.