Produksi Batu Bara RI Terus Dikebut

Produksi Batu Bara RI Terus Dikebut
Produksi Batu Bara RI Terus Dikebut

Pemerintah Indonesia tetap akan bertumpu pada batu bara. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap menjadi andalan dan memproyeksikan produksi batu bara akan terus meningkat setiap tahunnya, bahkan diperkirakan melesat menjadi 628 juta ton pada 2024 dari 550 juta ton pada tahun ini.

Rencana target tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 16 Tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM Tahun 2020-2024.

Menurut catatan data Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2021 diperkirakan akan naik menjadi 609 juta ton, lalu pada 2022 naik menjadi 618 juta ton, 2023 sebesar 625 juta ton, dan terus meningkat sampai 2024 dengan target sebesar 628 juta ton.

Sementara untuk kebutuhan batu bara domestik (Domestic Market Obligation/ DMO) diperkirakan juga naik sebesar 21% menjadi 187 juta ton pada 2024 dari 2020 ini yang diperkirakan sebesar 155 juta ton. Lalu pada 2021 kebutuhan batu bara domestik diperkirakan naik menjadi 168 juta ton, 2022 sebesar 177 juta ton dan 184 juta ton pada 2023.

Baca Juga: RI Bidik Pasar Baru Demi Kejar Target Ekspor Batu Bara

Adapun cadangan terbukti batu bara pada 2020 ini diperkirakan mencapai 39,31 miliar ton. Namun pada 2024 diperkirakan turun 5,5% menjadi 37,15 miliar ton. Pada 2021 cadangan terbukti batu bara diperkirakan turun menjadi 38,78 miliar ton, lalu 38,25 miliar ton pada 2022, dan 37,70 miliar ton pada 2023.

Berdasarkan data BP Statistical Review 2020, konsumsi batu bara global pada 2019 mencapai 157,86 exajoules, turun 0,6% dibandingkan 2018 yang sebesar 158,79 exajoules. Penurunan permintaan batu bara terbesar berasal dari negara uni eropa yakni mencapai 17,8% menjadi 7,69 exajoules dari 9,37 exajoules pada 2018.

Begitu pun dengan negara-negara maju tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), konsumsi batu bara turun 11,3% menjadi 32,10 exajoules dari 36,19 exajoules pada 2018. Sementara negara-negara di luar OECD hanya naik 2,6% menjadi 125,75 exajoules dari 122,61 exajoules pada 2018.