Produksi Batu Bara RI Diramal Hanya 520 Juta Ton

Produksi Batu Bara RI Diramal Hanya 520 Juta Ton

Produksi Batu Bara RI Diramal Hanya 520 Juta Ton
Produksi Batu Bara RI Diramal Hanya 520 Juta Ton

Pandemi Covid-19 masih menjadi momok bagi komoditas batu bara.

Penurunan harga komoditas batu bara memaksa Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) untuk mengambil langkah dengan jalan memangkas produksi 15-20%.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasali, pemangkasan produksi dapat menjadi opsi alternatif yang harus dilakukan.

Sebab, terjadi ketidaksesuaian antara supply-demand di pasar dunia. Khususnya dari negara pengguna batu bara besar seperti China dan India.

“China dan India mengalami penurunan permintaan impor batu bara dan lebih mengutamakan penggunaan produksi batu bara dalam negeri. Negara-negara lain seperti Jepang, Korea dan Taiwan yang menjadi pemakai batu bara Indonesia juga mengalami penurunan permintaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rizal mengatakan, saat ini pasar masih kelebihan pasokan dampak turunnya permintaan dari China dan India. Bahkan permintaan year on year (yoy) melemah 50%.

Ia mengatakan, opsi lain yang dapat diambil demi bisa bertahan adalah dengan melakukan efisiensi.

Khususnya yang langsung berhubungan dengan operasional, misalkan penurunan stripping ratio (SR), memperpendek jarak angkut, dan lain-lain.

“Mencari market baru juga solusi, namun tidak berpengaruh banyak karena tidak bisa mengompensasi demand dari tujuan ekspor yang besar seperti China dan India,” kata Rizal.

Ia menyebut beberapa analis memprediksi produksi batu bara RI akan mengalami penurunan tingkat produksi pada tahun 2020.

Baca Juga: Gas Dengan Bahan Baku Batu Bara Bisa Digunakan di Kompor Elpiji

Pemerintah RI telah menurunkan tingkat produksi dari 600 juta ton untuk tahun 2020 menjadi 550 juta ton.

Beberapa perusahaan akan mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2020 untuk penyesuaian tingkat produksinya di tahun 2020.