Produksi Batu Bara Dapat Melanggar Aturan?

Produksi Batu Bara Dapat Melanggar Aturan?

Produksi Batu Bara Dapat Melanggar Aturan?
Produksi Batu Bara Dapat Melanggar Aturan?

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa produksi batu bara pada 2021 akan menembus 600 juta ton, tepatnya 609 juta ton, naik dari target produksi tahun ini yang dipatok sebesar 550 juta ton.

Angka produksi batu bara ini diperkirakan akan terus merangkak setiap tahunnya. Bahkan, pada 2024 produksi batu bara diperkirakan mampu tembus 628 juta ton.

Menanggapi perkiraan produksi batu bara oleh pemerintah tersebut, salah satu organisasi non pemerintah yakni Publish What You Pay (PWYP) menuturkan rencana produksi batu bara yang terus melonjak bahkan di atas 600 juta ton tersebut bertabrakan dengan kebijakan energi nasional, khususnya Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Koordinator Nasional PWYP Indonesia Maryati Abdullah mengatakan RUED membatasi produksi batu bara per 2019 maksimal 400 juta ton per tahunnya.

“Khususnya RUED, yang melakukan pembatasan produksi batu bara per 2019 maksimum 400 juta ton per tahun. Hal ini juga kontradiksi dengan upaya penurunan porsi energi fosil dalam bauran energi nasional (primary energy mix),” ungkapnya kepada CNBC Indonesia melalui pesan singkat.

Lebih lanjut ia mengatakan harga batu bara serta permintaan ke depan diperkirakan akan semakin menurun, terutama dari India dan Tiongkok.

Permintaan batu bara dari dua negara importir terbesar batu bara Indonesia tersebut diperkirakan turun.

Selain itu, permintaan dalam negeri, seperti dari PLN dan pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/ IPP) menurutnya juga tidak akan naik.

Baca Juga: Dampak Penurunan Permintaan Batu Bara Global

Ini mengingat over capacity (kelebihan kapasitas) PLTU di Jawa dan pertumbuhan ekonomi dalam pemulihan ekonomi pascapandemi yang masih belum tumbuh secara signifikan,” tuturnya.

Harga batu bara kini anjlok dikarenakan rendahnya permintaan pasar, namun kini pemerintah malah menggenjot produksi.