Potensi Sumber Gas Indonesia

Sumber Gas
Potensi Sumber Gas Indonesia

Berdasarkan Neraca Gas Bumi Indonesia 2018-2027, potensi pengembangan sumber gas wilayah Kalimantan masih amat besar. Pasokan gas bumi di Kalimantan pada 2024 diperkirakan mencapai 2.075,35 – 2.609,49 MMSCFD.

Rinciannya terdiri dari existing 1.388,09 MMSCFD, project on going 26,91 MMSCFD, dan 2 project hulu yang akan first gas in dari Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Eni Muara Bakau Ltd sebesar 1.218,20 MMSCFD.

Potensi supply gas bumi juga terdapat di beberapa wilayah kerja (WK) eksploitasi sekitar Natuna, seperti WK Kakap, WK blok A, WK Natuna Sea B, dan WK Duyung.

Terlebih, terdapat potensi kelebihan pasokan gas bumi sebanyak 40 kargo LNG (gas alam cair) hingga tahun 2025 yang belum ada pembelinya (uncommited) sebesar 116.769,6 MMSCF (53,317 MMSCFD) atau setara 266,585 MW. Potensi tersebut berasal dari dua fasilitas gas utama Indonesia, LNG Tangguh dan Bontang.

Tak cuma itu, berdasarkan Neraca Gas Bumi tahun 2018 – 2027, terdapat potensi pasokan gas bumi di Kalimantan Timur mencapai 400 sampai 1.600 MMSCFD.

Melihat potensi kebutuhan Gas Bumi di Kalimantan Barat tersebut, diperlukan adanya kepastian pasokan gas bumi, pengembangan pasar LNG, pengembangan Wilayah Jaringan Distribusi (WJD), untuk disambungkan melalui pipa transmisi setelah WJD berkembang.

Pengembangan tersebut akan mendukung peningkatan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.

Baca juga artikel terkait Potensi Sumber Gas Indonesia: Minyak Melonjak Jelang Pertemuan OPEC

Demand Gas Bumi

Demand gas bumi di Kalimantan juga diperkiarakan datang dari sektor industri kelistrikan. Berdasarkan data Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) tahun 2019 – 2038, kapasitas pembangkit listrik PLTD dan PLTU Batubara di Provinsi Kalimantan Barat adalah 437 MW.

Dengan kapasitas tersebut, apabila pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi bahan bakar pembangkit dari batubara dan BBM menjadi Gas Bumi, diperkirakan pasokan gas bumi yang dibutuhkan sebesar 87,4 MMSCFD Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengatakan, sejak 3 tahun terakhir PT PLN (Persero) membeli listrik dari Malaysia sebesar 170 Mega Watt dengan harga Rp. 1.050/kwh.

Demi menggantikan konsumsi listrik yang dibeli dari Malaysia, PLN berencana membangun dua pembangkit listrik di Pontianak yaitu PLTU dengan daya sebesar 100 MW, dan PLTG dengan daya sebesar 100 MW.

Hal tersebut berpotensi menambah jumlah kebutuhan gas bumi untuk daerah Kalimantan Barat. Sementara itu, potensi kebutuhan gas bumi juga datang dari sektor Industri.

Rencana pengembangan Kawasan Industri Landak dan Ketapang serta industri lain di Kalimantan Barat diperkirakan membutuhkan pembangkit listrik sebesar 592 MW. Nah, apabila menggunakan pembangkit listrik berbasis gas bumi, maka potensi demand akan sebesar 118,4 MMSCFD. Potensi demand pemanfaatan gas bumi di Kalimantan berasal dari banyaknya industri dan pembangkit listrik yang menggunakan batubara dan BBM jenis Solar.

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah, saat ini PT Pengembang Pelabuhan Indonesia sedang mengembangkan Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak dengan luas kurang lebih 1.350 Ha. Diperkirakan, pelabuhan tersebut membutuhkan pembangkit listrik sebesar 8,3 MW atau setara potensi demand gas bumi sebesar 1,7 MMSCFD.

Pemerintah Kabupaten Mempawah pun mengusulkan kepada Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sungai Kunyit di lahan seluas kurang lebih 5.000 Ha. Diperkirakan, dalam pengembangan KEK tersebut dibutuhkan pembangkit sebesar 310 MW atau sebanding dengan potensi demand gas bumi sebesar 62 MMSCFD.