Potensi Hilirisasi Nikel Menggusur Dominasi Ekspor Batu Bara

Potensi Hilirisasi Nikel Menggusur Dominasi Ekspor Batu Bara

Potensi Hilirisasi Nikel Menggusur Dominasi Ekspor Batu Bara
Potensi Hilirisasi Nikel Menggusur Dominasi Ekspor Batu Bara

Produk hilirisasi nikel berpotensi menggeser batu bara yang selama ini menjadi komoditas unggulan Indonesia.

Pembangunan pabrik pemurnian nikel berkembang pesat. Ada enam smelter berteknologi tinggi yang bakal dibangun.

Bank investasi dan keuangan asal Amerika Serikat, Morgan Stanley menyebut ekspornya akan naik seiring dengan peningkatan investasi yang signifikan dari perusahaan Tiongkok.

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan bijih nikel terbesar di dunia.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total produksi nikel di dunia pada tahun lalu berada di angka 2,6 juta ton. 

Secara global, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan menghasilkan 800 ribu ton.

Di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Filipina dan Rusia dengan produksi masing-masing 420 ribu ton dan 270 ribu ton.

Lalu, nomor empat adalah New Caledonia sebesar 220 ribu ton dan negara lainnya mencapai 958 ribu ton. 

Kementerian ESDM mencatat produksi bijih nikel tahun lalu mencapai 52,8 juta ton, naik dari tahun sebelumnya di 22,1 juta ton.

Peningkatan signifikan ini terjadi karena para produsen mengolah kembali stok bijih nikel kadar rendah menjadi produk ekspor dengan kadar minimal 1,7%.

Baca Juga: Pendapatan Negara Tak Terpengaruh Royalti Batu Bara

Namun, pemerintah telah menghentikan ekspor nikel mulai 1 Januari 2020.

Keputusannya tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2019.